Jumat, 03 Desember 2010

Ikhwan harus BERANI...!!

Tayangan televisi yang menguji keberanian kian menjamur menghibur pemirsa. Reality show ‘Tantangan', ‘Berani Donk', ‘Nekatz', atau ‘Fear Factor' begitu menarik perha-tian. Buktinya antusias masyarakat untuk ikut ambil bagian membludak. Udah ditonton banyak orang, diliput, dapet duit lagi. Meski tantangan-nya agak-agak gokil tetep aja sang kontestan yang didominasi cowok pantang mundur. Disuruh makan cacing, dibotakin kepalanya, atau berjalan di atas seutas tali yang meng-hubungkan dua gedung bertingkat juga nggak masalah. Hmm…bidikan produser acara emang tepat. Siapa yang nggak mau nunjukkin keberaniannya. Apalagi remaja cowok. Bener?

Sebagai cowok pasti mokal (baca: malu) dong kalo dikatain chicken alias penakut. Masa' mau disamain ama Scooby Doo en Shaggy . Makanya banyak remaja cowok yang berusaha nunjukkin kalo doi pemberani dan suka tan-tangan. Apalagi pas lagi ada demenannya. Udah deh, lagaknya bak pahlawan bertopeng pembela kebenaran. Nggak cuma di mulut bilang berani, mereka juga unjuk gigi (Mandra kaleee…).

Ada yang doyan kebut-kebutan motor atau mobil di jalanan. Berisiko tinggi dan dijamin nggak malu-maluin kalo balapan ama bajaj Bajuri. Ada yang berlaga jadi bad boy alias co-wok badung. Dandanan sekenanya dengan rambut acak-acakan, baju untouchable by water (nggak pernah dicuci) selama seminggu, plus tindikan anting di hidung dan kuping.

Hobinya juga bolos, berantem, tawuran, sampe nge- drugs . Ada juga yang hobinya hiking, camping, atau travelling dengan modal seadanya. Ikat kepala, sandal jepit, serta tas ransel yang dihiasi cerek atau panci. Biar lebih menantang mereka berjalan kaki. Meski kadang-kadang nebeng di mobil bak terbuka atau truk yang berhasil mereka boikot di tengah jalan. Nestapa banget deh keliatannya. Persis kayak peserta training hidup sengsara . Hihihi…..(emang ada?)

BTW, ternyata nggak semua cowok pem-berani, macho, atau maskulin. Ada juga lho yang kadar keberaniannya masih di bawah 4,0 meski udah dikonversi (emangnya nilai UAN?). Nggak berani terima tantangan, apalagi sampe adu fisik. Malah cenderung cantik dan feminin. Body boleh atletis, tapi wajahnya itu seram alias sen-yum ramah. Perilaku dan tutur bahasanya luwes binti kemayu. Gayanya malah gagah gemulai. Bawaannya juga nggak jauh dari tas tangan, kipas, plus kosmetik. Sebangsanya ‘Somad' dalam ‘Cintaku di Rumah Susun' gitu deh.

Selain kedua tipe di atas, ada juga cowok yang biasa. Banyak malah. Biasa berantem, biasa kebut-kebutan, biasa tampil cantik, biasa ngegosip dll. Hehehe…becanda dink. Maksudnya cewek banget juga nggak, tapi doi kagak berani nerima tantangan. Datar-datar aja hidupnya. Kayak kubangan air diselokan yang mampet. Seolah nggak ada keinginan untuk selangkah lebih maju atau menggali potensi diri. Cowok kayak gini yang patut dipaksa jadi peserta Fear Factor atau boleh juga ngikut acara “Tan-tangan” . Betul ? Betuuuul...! Makasih. Hehehe..

Berani terima tantangan

Sobat muda muslim, tantangan (bukan acara TV lho) udah jadi bagian yang terpisahkan dalam hidup kita (ciee… berlagak jadi pujangga nih ceritanya). Sama nasibnya dengan oksigen yang tiap hari kita hirup. Tiap orang pasti punya masalah dan tantangan yang kudu diatasi. Kalo ada yang sok bilang nggak punya masalah, itu berarti masalah buat dia. Tapi bukan berarti kita nyari masalah. Bisa urusan ama aparat entar. Berabe dong.

Maksudnya, tanpa kesulitan, kita nggak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Nikmatnya sembuh pasti karena kita pernah merasakan nggak enaknya sakit yang serba kesulitan. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, bakal bikin kita lebih kuat. Punya pengalaman biar nggak terulang. Setiap tantangan yang dilewati, mengizinkan kita untuk tersenyum bahagia. Tantangan juga bikin hidup lebih dinamis dengan turut membantu menggali potensi diri kita. Coba bayangin, betapa garing hidup kita jika segala sesuatu yang kita inginkan gampang banget didapetin (emangnya kantung ajaib Doraemon?)

Itu sebabnya, udah sepatutnya kita tumbuhkan sikap berani. Berani hadapi tantangan hidup dan segala risiko dari keputusan yang diambil. Kita nggak perlu ngabisin tenaga buat lari dari masalah. Kecuali jika kita nggak tengsin dibilang pecundang sejati. Karena masalah menghampiri kita untuk diatasi, bukan dihindari.

Tapi perlu hati-hati, jangan sampe keliru. Sikap berani laen ama nekatz (pake ‘z' biar sangar). Jelas banget bedanya. Kalo berani, biasanya sudah diperhitungkan dan penuh perencanaan. Kita udah punya bekal buat ngadepin segala risiko yang bakal terjadi. Tapi kalo nekatz cenderung sembrono. Bisa dibilang nggak ada perencanaan. Apalagi persiapan untuk ngadepin kejadian-kejadian berikutnya. Bisa kacau-balau deh urusannya.

Terutama buat remaja cowok, sifat berani tanpa dibumbui nekat seperti yang udah diuraikan di atas nggak boleh lepas dari dirinya. Wajib nempel kayak perangko. Kalo perlu pake BB Harum Sari. Soalnya kelak banyak tanggung jawab yang mangkal di pundak mereka. Kalo udah waktunya, kita bakal jadi kepala keluarga boo. Untuk saat ini, kita bisa ambil bagian dalam melin-dungi keluarga, adik, kakak, atau ibu. Minimal jadi pemain ca-dangan buat ayah kalo se-waktu-waktu beliau cedera atau terkena kartu merah. Maka-nya dari sekarang, asah deh tuh sikap anticengeng dan pan-tang menyerah. Biar pantas menyan-dang julukan pejantan tangguh. Yoi nggak Coy?

Dalam dakwah pun kita berani

Sebagai muslim, pasti julukan pejantan tangguh itu akan sejajar dengan paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, pemimpin para syuhada. Kok bisa? Kenapa nggak, kita kudu berani terjun ke dunia dakwah dan meneladani beliau. Berani mengatakan terikat dengan aturan Allah dalam setiap perbuatan itu wajib dan sekularisme itu haram. Meski ada sebagian masyarakat atau penguasa yang merasa risih dengan pendapat ini. Pokoknya tetep maju pantang ngacir.

Terjun ke dunia dakwah belom komplit tanpa dilengkapi keberanian menghadapi risiko dakwah. Sebab di sana banyak berkeliaran tantangan yang acapkali bisa melemahkan semangat dakwah kita. Ngadepin omongan orang yang sinis, mencemooh, sampe yang tega menyerang secara fisik. Makanya kita juga kudu siap pasang badan. Kalo perlu ikut bela diri semacam capoera yang lagi digandrungi remaja. Tapi nggak usah kuatir. Risiko apa pun yang menghadang kita dalam dakwah itu akan menjadi penolong kita untuk dapetin ridho Allah. Setiap harta, tenaga, pikiran, dan waktu yang dikorbankan akan bernilai guede buanget di hadapan Allah. Mau dong?

Sobat muda muslim, kudu digaris bawahi plus dipertebal pake stabilo, dakwah nggak ada hubungannya dengan mendekatnya ajal, seretnya rizki, atau menjauhnya jodoh. Yang ada justru Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, meluaskan rizkinya, dan menjanjikan pasangan hidup yang baik plus bertakwa bagi orang-orang yang selalu berusaha terikat dengan aturan-Nya. Pengemban dakwah yang istiqomah masuk dalam kategori ini. Catet tuh!

Allah swt. Befirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Jangan-lah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalam-nya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS al-Fushilat [41]: 30-31)

Jadi pemberani sejati

Sobat muda muslim, pernah denger sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abdullah bin Rawahah? Kalo belum, kamu wajib tahu. Soalnya dialah sosok pemberani yang mengobarkan se-mangat 3000 pasukan kaum muslimin yang mulai ketar-ketir ngadepin 200.000 pasukan ga-bungan Romawi pada saat perang Mu'tah.

Beliau bilang: “ Wahai kaum Muslimin, sesung-guhnya yang hendak kalian hindari (perang ini) justru adalah jalan mencari sya-hadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan. Menang atau mati syahid!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an- Nihayah , Juz III/428)

Dalam hal pengorbanan kepentingan pribadi demi Allah, kita bisa mencontoh figur Sa'di bin Amir yang diprotes sang istri karena besarnya infaq yang dikeluarkannya di jalan Allah. beliau berkata: “Ketahuilah bahwa di dalam surga banyak terdapat bidadari yang cantik-cantik selain keindahan-keindahan yang mengagumkan, yang jika satu saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, niscaya akan menerangi semua yang ada. Sungguh kekuatan cahayanya sama dengan kekuatan cahaya matahari yang digabungkan dengan bulan sekaligus. Maka mengorbankan dirimu untuk mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada aku mengor-bankan mereka demi dirimu.”

Nah sobat, keberanian yang ditunjukkan Abdullah bin Rawahah atau Sa'di bin Amir cuma sebagian aja dari banyaknya kisah keberanian para sahabat. Kita dan mereka sama-sama muslim. Karena itu kita juga bisa seperti mereka. Untuk itu, berikut kita kasih beberapa tips yang mungkin bisa membantu menum-buhkan keberanian sejati dalam diri kita:

(a). Pelajari makna hidup ini (untuk apa kita hidup). Buat kita, tentu tujuan hidup udah jelas. Hidup mulia, wafat masuk syurga. Ini bisa didapetin kalo memahami Islam ideologis. Sudah terbukti, sudah teruji, bikin orang jadi berani.

(b). Anggap yang lain sama seperti kita, meski tetap hormati dan hargai kelebihan masing-masing. Jadi nggak ngeper duluan lihat orang lain. Karena sama-sama makhluk ciptaan Allah yang lemah. Bedanya, Allah Maha Kuasa akan selalu bersama kita saat kita berani istiqomah dengan aturan-Nya.

(c). Percaya diri. Ini penting banget. Karena Allah nggak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan kita sebagai manusia. Karena itu kita yakin pasti bisa menjadi pengemban dakwah yang istiqomah.

(d). Jalan yang kita tempuh adalah kebenaran. Iya dong. Masa masih ragu dengan aturan Allah yang benar, mulia, dan sempurna?

(e). Sering membaca biografi orang yang terkenal berani. Jangan sampe kelewat. Biar bisa jadi motivasi sekaligus meneguhkan keyakinan kalo istiqomah itu bukan impian, tapi kenyataan yang bisa diusahakan dan diwujudkan.
Oke deh sobat, semoga tips di atas bisa banyak membantu. Buat semuanya, mari kita bangkit menghadapi tantangan pahit. Agar hidup kita terasa manis. Buat remaja cowok, tanamkan dalam diri kita prinsip, “berani karena benar.” Bukan karena dibayar. Ini baru pejantan tangguh nan syar'i . Tetep berani dan istiqomah! Allahu Akbar!

http://rohis.org/ written by ASM

Rabu, 01 Desember 2010

Cinta Tanpa Koma

Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.

Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan. amai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan. Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?

Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.

Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.

Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?

Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.

Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”

Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)

Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.

Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta'ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)

Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.

Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”

Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti

dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)

Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan.

www.dudung.net

Kamis, 25 November 2010

Sejarah Rohis SMAN 23 Jakarta

Sejarah Rohani Islam SMAN 23 Jakarta tidak dapat dipisahkan dari sejarah sekolah kita sendiri, alamamater kita tercinta, SMA Negeri 23 Jakarta. Jika SMA Negeri 23 Jakarta sudah ada sejak tahun 1966, dengan Kepala Sekolah Pertamanya Bapak R. Harsoehadi, maka Rohis SMAN 23 baru lahir 12 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1988. Sudah cukup tua ya! Mungkin kita juga belum lahir!

Seperti diceritakan dari para alumni-alumni generasi awal (ashabiquna awwalun), meskipun ROHIS SMAN 23 Jakarta sudah ada sejak tahun 1988, namun saat itu Rohis masih merupakan bagian organisasi yang belum berdiri sendiri, acara-acara yang diangkatkanpun masih berupa Perayaan Hari Besar Islam berupa acara Maulid-an yang diangkatkan bersama-sama dengan OSIS. Pada periode ini, sekitar tahun 1988-1989 ketua Sub-organisasi Kerohanian Islam diketuai oleh Dede Sutisna. Saat Bapak Dede Sutisna menjabat sebagai ketua Rohis, Kepemimpinan Sekolah dikepalai oleh Bapak M. I. Nicky Ginoga sebagai Kepala Sekolah Ke-8.

Meskipun Rohis baru lahir 12 tahun kemudian sejak berdirinya SMAN 23, namun rohis sudah menghasilkan kepemimpinan generasi sebanyak 23 angkatan (terhitung sejak tahun 1988-2010), sedangkan Kepemimpinan Sekolah baru sebanyak 15 angkatan. Ya iyalah, kan periode kepengurusan Rohis setahun sekali, sedangkan masa jabatan Kepala Sekolah bisa lebih dari satu tahun, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun.

No. Periode Nama Ketua Rohis SMAN 23 Jakarta
1. 1988 – 1989 Dede Sutisna
2. 1989 – 1990 Suharto
3. 1990 – 1991 Dwinanto Prastowo
4. 1991 – 1992 Nurhasan
5. 1992 – 1993 Mohammad Nur
6. 1993 – 1994 Kosasih
7. 1994 – 1995 Surahman
8. 1995 – 1996 Rommie Yanto
9. 1996 – 1997 Cepi Parman
10. 1997 – 1998 Junaedi
11. 1998 – 1999 Asep Supriyatna
12. 1999 – 2000 Lukmanul Hakim
13. 2000 – 2001 Anas Malik Farhan
14. 2001 – 2002 Dwi Armada
15. 2002 – 2003 Muhammad Iqbal
16. 2003 – 2004 Muhammad Syarif Hidayat
17. 2004 – 2005 Probo Setiawan
18. 2005 – 2006 Febriyansyah
19. 2006 – 2007 Raden Gumilar
20. 2007 – 2008 Khalil Gibran
21. 2008 – 2009 Khaidir Alatas
22. 2009 – 2010 Muhammad Arip Aprianto
23. 2010 - 2011 Muhammad Egy Subentra

Mungkin status Rohis hari ini tidak begitu jauh berbeda dengan Rohis pada tahun-tahun awal, yaitu Rohis sebagai Sub atau Sie dari OSIS, namun sayangnya Rohis pada tahun ini belum memiliki anggota. Kepemimpinan Rohis pun dilanjutkan oleh Bapak Suharto (Bukan presiden RI ke-2 ya!). Di kepemimpinan beliau Rohis mencoba untuk mandiri, maksudnya mandiri dalam kegiatan. Jadi, walaupun Rohis tetap sebagai Sub-organisasi OSIS, pada periode ini Rohis mencoba berdikari sebagai organisasi, mengangkatkan acara sendiri, dan mendeklarasikan ketua Sie Kerohanian Islam juga sebagai Ketua Rohis, hasilnya seperti yang sudah kita rasakan sampai saat ini.

Periode Rohis yang dipimpin oleh Bapak Suharto ini belum memiliki anggota, karena baru ”minggat” dari rumahnya. Merasa membutuhkan generasi penerus yang melanjutkan perjuangan da’wah Rohis, maka dilaksanakan Open Recruitmen pertama kali. Open Recruitment anggota dan pengurus rohis pertama ini baru dimulai dengan memanfaatkan momen Pelaksanaan Hari Besar Islam, seperti maulid-an dan sebagainya. Kalo sekarang momen perekrutan dilakukan saat Open House, kalo kemarin saat Maulid-an, kalo kemarin masih ada acara Maulid-an dan belum ada Open House, sekarang masih ada acara Maulid-an gak ya?

Rohis pada periode ini juga sudah mulai kondusif karena sekolah kita yang di Tomang sedang di renovasi dan kita menumpang di Sekolah SD di Bilangan Anggrek Nelly Murni, Palmerah Utara. Saat itu gedung SMAN 23 direhabilitasi total menjadi tiga lantai lengkap dengan Lab. IPA, Lab. Bahasa, Perpustakaan, dan AULA (seperti yang dituliskan pada situs sekolah SMAN 23 Jakarta). Para alumni generasi awal saat itu melobi Kepala Sekolah SD tempat kita numpang untuk meminjam ruang gudang sebagai musholla dan sekaligus sebagai base camp / pusat kegiatan Rohis.

Satu Kebanggaan tersendiri tentang Rohis pada periode ini adalah bahwa Rohis SMAN 23 Jakarta adalah Rohis pertama di Jakarta Barat yang menyelenggarakan Pentas Nasyid di sekolah. Nasyid yang dulu dibawakan berjudul “Laatas alu” ( Jangan Kau Tanya) & “Ribathul Ukhuwah” ( Tali Persaudaraan), nasyidnya berbahasa arab, jadi terjemahan nasyidnya di bacakan sebagai puisi mengiringi nasyidnya. Salah satu pembawa nasyidnya (Munsyid) adalah Ka Nanang Kurniawan. Pada periode Rohis kali ini juga, Halaqoh Tarbiyah (halaqoh-lingkaran/mentoring, tarbiyah-pembinaan/pendidikan islam) terbentuk satu kelompok (ikhwan), dan halaqoh tarbiyah inipun yang memberikan energi dahsyat saat itu dalam perkembangan da’wah dan syi’ar islam di SMAN 23 Jakarta.

Masih berlokasi di Sekolah Dasar di Bilangan Palmerah, estafet Rohispun berlanjut, yaitu pada tahun 1990-1991, Ketua Rohisnya dilanjutkan oleh Kakak Dwinanto Prastowo, sekarang beliau adalah Superviser Quality Control (Spv QC) di PT Bogasari. Saat beliau menjabat sebagai Ketua Rohis, sebagai Pembina Rohisnya adalah Ibu Rosmini Rasul dan Bapak Ahmad Basyuni Syarief (Alm). Pada era ini, Halaqoh Tarbiyah Akhwat mulai terbentuk, anggota-anggotanya adalah Kakak Santi Tungka, Dilla Laswantina, Ety Wahyuniaty, Elsi Marlini, Sri Sayekti,,,

Alhamdulillah dengan Halaqoh Tarbiyah, ROHIS menjadi kegiatan ekstrakurikuler paling dominan dibandingkan ekstrakurikuler lainnya dalam wadah OSIS. Anggotanya disegani, bukan hanya dari kalangan siswa, tapi juga dikalangan guru. Anggota Ekskul lain (PMR, KIR, Paskibra) banyak juga yang akhirnya bergabung dengan kegiatan Rohis.

Pada Periode ini juga Rohis 23 menjadi ekskul pertama yang melaksanakan kegiatan di luar sekolah yang menginap di luar kota selama 3 atau 4 hari dalam Kegiatan TAFAKUR ALAM (TA). Ini adalah kegiatan TA pertama dalam sejarah ROHIS 23, yang di setujui pihak sekolah dan dikuti pula dengan guru sekolah.

Pada periode ini juga ROHIS pernah mengadakan pelajaran Bahasa Arab (yang ngajar bhs Arab saat itu Kak Salman - Alumni pesantren). sayang hanya berlangsung singkat, tidak sampai 1 semester kegiatan terhenti karena pengajarnya berhalangan. Kemudian Kepemimpinan Rohis dilajutkan oleh Kak Nur Hasan (1991-1992).

Mushalla Bahrul Ilmi, sebagai tempat shalat dan pusat kegiatan keislaman, merangkap sebagai sekretariat dan base camp-nya anak rohis baru dibangun pada tahun 1992, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1992 pada masa Kepala Sekolah Ruhanta Sastradipura, dan diresmikan oleh Kanwil Depdikbud pada tanggal 25 Juli 1994 oleh Drs. H. Tating Karnadinata.

Merunut sejarah berdiri dan perkembangan Rohis sejak tahun 1988 hingga tahun 2010, dengan telah mengalami 23 angkatan, belum diperoleh informasi tentang siapa-siapa saja para ashabiquna awwalun itu, para founding fathers (bapak pendiri) yang telah menggagas berdirinya rohis. Kemudian menjadi maklum bahwa tanggal berdirinya Rohispun belum diketemukan, mungkin akta kelahiran Rohis masih terselip di suatu tempat atau masih harus didapatkan informasi-informasi tentang sejarah Rohis dari para “saksi hidup”. Semoga sejarah Rohis diatas semakin menguatkan langkah kaki kita untuk mengembangkan da’wah Rohis agar semakin rapi dan semakin baik dari tahun ke tahun. Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Senin, 22 November 2010

SESAAT UNTUK SELAMANYA

Oleh Lathifawati Hikmah pada 14 November 2010 jam 23:16

hem, sering orang mendengar KESETIMBANGAN di kimia . sering orang belum memahami atau mengerti kesetimbangan . kesetimbangan sebenarnya berada pada diri masing-masing . kesetimbangan itu bisa diukur, dinilai, dan dipahami diri masing masing.

Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia taat dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi semua itu bermacam-macam setelah manusia diciptakan . di dalam diri manusia mempunyai hati, pikiran, dan nafsu . makanya sisi manusia ada yang baik ada yang salah, ada yang baik ada yang jahat . itu semua yang membuat manusia berubah-ubah.

dunia akhirat? kadang hanya sebagai ceramahan sesaat . tanpa ia sadari waktu yang terus berlanjut akan membuktikan semuanya . di dunia ini tak ada yang kekal dan mempunyai kekuasaan untuk mengendarai keadaan dan kehidupan dunia ini . semua yang diberi kedudukan sebagai khalifah, itu hanya agar khalifah itu menjaga saudara-saudaranya terhadap ancaman, dosa, dan kesalahan . khalifah bukan untuk memerangi saudara antar saudara, bukan membela untuk hak dirinya, dan bukan untuk keegoisan semata.

sungguh ALLAH maha ADIL . "diciptakan tapi tak melaksanakan perintahnya maka ia berdosa, dan sebaliknya jika ia melaksanakan perintahnya ia mendapat pahala" (ia disini untuk ciptaannya) . sungguh ALLAH maha KUASA . apa yang ada di dunia diriNYA kendalikan karena diriNYA lah yang menciptakan.

apa yang dilakukan untuk dunia hanya mendapatkan dunia saja . tapi jika niat untuk Allah maka insyaAllah dunia dan akhirat akan didapatkan . SAUDARAKU, jangan pernah menyesali apa yang sudah diperbuat tapi renungkanlah, intropeksilah . jika itu disesali malah akan membuat diri jadi sedih dan sakit rohani jasmani . jangan pernah menyalahkan suatu hal yang membuat diri semakin terpuruk karena tak akan ada kebaikan didalamnya malah akan menambah keburukan dan keterpurukan pada diri sendiri.

pesanku : "SAUDARA-SAUDARAKU SERUKANLAH KEBENARAN DAN KEBAIKAN KEPADA SAUDARAMU YANG LAIN AGAR MEREKA MENGERTI KENAPA MEREKA DICIPTAKAN, BAGAIMANA BISA MEREKA DICIPTAKAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN MEREKA. TAPI INGATLAH MENYERUKAN SEMUA INI DENGAN TETAP BERPEGANG TEGUH PADA AL-QURAN DAN HADITS."

nb : ini hanya sesaat tapi untuk selamanya karena dakwah itu tak mengenal diam atau berhenti. tapi, orang yang mendakwahkan wajib beristirahat untuk kesehatan jasmaninya. ini hanya sesaat tapi akan berbuah keindahan :)

A L U M N I

Berbagi cerita tentang rohis sma negeri 23, atau biasa kita singkat rohis 23, yang begitu teringat dibenak kita adalah para alumninya, betapa kehadiran dan kontribusi mereka sangat dirindukan. Mungkin belum begitu terasa saat ini bagi yang sekarang masih menikmati waktu sekolah, tapi bagi para pengurus rohis alumni adalah sumber kekuatan kami dalam bergerak, kehadiran mereka begitu dirindukan. Pun bagi kami saat ini yang telah menjadi alumni, kerinduan kami pada para alumni-alumni sebelum kami yang dahulu membentuk “karakter” kami begitu kuat. Ruh-ruh kami begitu merindukannya dari kejauhan ruang dan keterbatasan waktu.

Terasa hambar rasanya sebuah kegiatan yang rohis angkatkan, tanpa kehadiran alumni. Ketika salah seorang alumni yang berkesempatan hadir mengikuti sebuah acara rohis, yang ditanyakan pertama kali oleh anak-anak rohis adalah “alumni yang lain mana kak?” kemudian percakapan menjadi hening sejenak, karena sang alumni tidak tahu harus menjawab apa?

Dalam sebuah kesempatan saat kami bersilaturrahim ke rumah salah seorang alumni, kami bercerita banyak tentang kondisi rohis hari ini dan kondisi rohis kemarin, suka dan duka bercampur dalam percakapan kami. Diskusi yang cukup singkat, namun menghasilkan satu pesan singkat yang padat, betapa kami para alumni pun begitu merindukan momen-momen dan kebersamaan seperti dahulu.

Kami lupa dengan betapa jenuhnya kami dahulu menghadiri rapat-rapat sepulang sekolah atau rapat diluar waktu sekolah. Rapat persiapan Tafakur Alamlah, rapat Hari Besar Islam lah, rapat inilah, dan rapat itulah, walaupun saat rapat itu ada alumni juga. Namun kami tidak akan pernah lupa, saat kami bersama para alumni, mendaki ketinggian curug untuk merasakan segarnya air terjun! Bersama para alumni rapat di penghujung malam di lokasi Tafakur Alam untuk mempersiapkan acara Tafakur Maut, acara Riyadhoh, atau games. Bersama para alumni yang tidak pernah malu menangis di samping kiri dan kanan kami saat bermuhasabah bersama kami selepas qiyamullail. Kami tidak akan pernah lupa saat kami makan bersama para alumni dalam satu talam/nampan, menikmati hidangan yang telah dipersiapkan oleh para pengurus rohis dalam sebuah acara.

Singkat memang masa-masa SMA yang kita rasakan, hanya tiga tahun, tapi kalo ada yang lebih cepat dari tiga tahun ataupun lebih lambat dari dua tahun, pasti itu murid-murid “ruarr biasa!”. Tiga tahun berlalu setelah melewati masa SMA, kali ini kami merasakan jadi alumni. Jujur, tiga tahun berlalu ataupun lebih dari itu, mungkin di benak sebagian para alumni rohis, kenangan semasa SMA yang begitu kuat adalah kenangan selama mengikuti kegiatan rohis ketimbang kenangan-kenangan lainnya.

Mengikuti kegiatan rohis, emosi kami terlibat, karena kami begitu menikmati setiap kegiatan-kegiatan yang diangkatkan, melewati banyak rintangan bersama, sehingga kami begitu mengingatnya. Entah kenapa walupun sebagian kita pernah menjadi duta yang diutus sekolah untuk mengikuti sebuah lomba atau kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lembaga atau institusi pendidikan lainnya, kami tidak begitu ingin mengingatnya, walaupun saat itu kami pernah memiliki perasaan bangga. Bangga karena umumnya yang diutus untuk lomba-lomba dan seminar adalah anak rohis! Itu aja!.
Menjadi alumni yang mau berkontribusi dengan da’wah sekolah adalah pilihan. Kenapa pilihan, karena tidak dipaksakan, karena jika tidak mau berkontribusi juga tidak berdosa. Adalah pilihan kita sebagai alumni untuk hanya memantau maju mundurnya da’wah sekolah ini “dari jauh” atau “dari dekat”. Adalah pilihan kita sebagai alumni untuk “hanya melihat” segelintir alumni lainnya yang turun dalam da’wah sekolah, atau ikut terlibat. Karena jika kita tidak dapat berkontribusi dalam da’wah sekolah, toh kita sering berhusnudzon pada diri kita sendiri bahwa “pasti ada alumni lain yang turun ke sekolah.

Hukumnya berkontribusi dalam da’wah sekolah bisa dibilang “fardhu kifayah” seperti kita menshalatkan jenazah. Seperti itukah...? Jika sudah ada sebagian yang mengerjakannya, maka yang lain tidak berdosa jika tidak mengerjakannya...! seperti itukah? Dan betapa sudah zalimnya kita terhadap saudara-saudara kita yang lain.
Jika dimisalkan hanya ada dua orang alumni yang turun untuk berkontribusi da’wah sekolah, misalnya seperti Ka Tuti dan Ka Rio, atau Ka Syarif dan Ka Amir, atau Ka Tia dan Ka Antika, atau Ka Mutia dan Ka Fatimah, atau Ka Parlin dan Ka Junaedi? apakah artinya keberadaan mereka sudah merepresentasikan kontribusi-kontribusi alumni yang lainnya? Dua orang itu, mereka membina anak-anak rohis setiap pekannya, mengisi acara mentoring anak-anak rohis, mereka juga mengupayakan untuk menghadiri acara rohis setiap hari jum’at, seperti mengisi acara keputrian ataupun shalat jum’at, mereka juga menemani anak-anak rohis dalam membimbing dan mengarahkan pengurus rohis saat rapat-rapat kecil mereka mempersiapkan acara, mereka juga harus mengalokasikan waktu untuk rapat-rapat “langit” mengenai evaluasi kondisi dan acara rohis dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke tahun. Singkatnya segelintir alumni yang dapat terjun dalam da’wah sekolah, maka segelintir itu pula yang harus memikirkan agenda-agenda rohis, menjalankan agenda rohis, mengevaluasi, dan memikirkan langkah-langkah strategis selanjutnya.

Jika rohis hari ini sedang “sakit”, maka tolong bantu kami melakukan general check-up, seberapapun mahal biayanya! Tolong periksa kesehatan secara menyeluruh bagian organ tubuh rohis agar dapat diketahui dimana saja sumber penyakitnya, jika dimisalkan rohis itu seperti organ tubuh, maka periksa bagian-bagian mana dari tubuh rohis yang tidak berfungsi dengan baik. Sebagai sebuah organisasi, bagian-bagian organ tubuh rohis adalah para stakeholdernya, mulai dari pengurus rohis, anggota rohis, para alumni dan pembina rohisnya. Bagaimanakah keadaan tubuh alumninya? Sakitkah? Bagaimanakah keadaan para pengurus rohisnya? Berjalan sendiri kah? Bagaimana keadaan pembina rohisnya? Benar-benar membina kah? Atau malah membinasakan!, bagaimanakah keadaan rumah tangga rohis??? Ada begitu banyak yang kurang sehat?. Jika diibaratkan rohis seperti pasien yang ingin sembuh, maka ada banyak tes-tes kesehatan yang harus dijalankan, dan sejumlah obat-obatan yang harus diminum agar cepat sembuh. Jauh sebelum kesembuhan itu hadir, maka harus di tanamkan keyakinan bahwa “mencegah lebih baik dari pada mengobati,” agar kelak tidak jatuh kembali di lubang yang sama.

Selepas SMA, alumni menjadi murid baru. Murid baru di kampusnya bagi yang berkesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi, atau murid baru di dunia kerjanya. Ingin rasanya melakukan sebuah penelitian seperti orang-orang kuliahan sana, meneliti kenapa para alumni memiliki keterbatasan waktu, keterbatasan finansial, keterbatasan kehadiran, dan keterbatasan lainnya untuk membantu kami, adik-adiknya di rohis sma negeri 23.

Alumni yang belum bekerja atau belum kuliah, atau masih menganggur, entah kenapa mereka memiliki keseganan tersendiri untuk turun melihat semangat da’wahnya adik2 kita di rohis 23. Setelah bekerja mereka disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga belum ketemu juga waktu yang tepat untuk turun ke 23. Setelah kuliah mereka disibukkan dengan padatnya jadwal kuliah dan organisasi mereka di kampus, atau disibukkan dengan Tugas Akhir, sehingga lagi-lagi memang waktu untuk turun ke rohis 23 harus dikorbankan. Setelah lulus kuliah, mereka bekerja, dan kemudian berkeluarga, maka kesibukan alumni menjadi plus-plus-plus, maka waktu untuk turun ke 23 juga belum ada. Jadi, ya mantau da’wah 23 dari jauh aja deh! Ucap beberapa alumni. Atau beberapa orang alumni yang malu untuk turun berkontribusi di rohis 23, karena mereka merasa kurang percaya diri dan karena rasanya tidak ada yang dapat mereka berikan untuk adik-adik mereka di rohis 23. Hmmmm...! padahal hadirnya mereka ke 23 saja disetiap mereka ada kesempatan adalah suplemen bagi alumni lainnya atau bagi adik-adik di rohis. Entah siapa yang salah, kesibukan alumni yang padatkah, atau adik-adik kita di rohis kah...?

Untuk beberapa orang alumni yang telah menginisiasi atau merintis wadah bagi para alumni agar dapat berkontribusi bagi da’wah sekolah secara lebih teratur dan terarah, sungguh kami para alumni mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi. Adanya wadah FIKRA atau Forum Silaturrahim dan Ukhuwah Rohis Alumni SMAN 23 Jakarta (http://fikra-rohis23.blogspot.com) sungguh sangat bermanfaat, semoga dapat diberdayakan dan dikelola menjadi lebih baik.

Untuk segelintir alumni telah mengorbankan waktu, pikiran, dana, kesehatan, emosi, ruhiyah, dan sebagainya, semoga pengorbanan kalian menjadi amal terbaik (ahsanu ‘amala) yang memperberat timbangan kebaikan kita dihari akhir kelak. Mungkin pengorbanan kita yang sudah “habis-habisan” rasanya tidak dihargai oleh alumni yang lain,,,mungkin belum dirasakan perannya, atau mungkin belum dirasakan effect-nya,,,mungkin loh! Sungguh wajar jika segelintir alumni itu berkeluh kesah pada batas tertentu dan menjadikan dinding fb sebagai tembok ratapan...wajar saja! Namun di kedalaman hati, mereka punya doa-doa yang dalam, doa-doa yang optimis, doa-doa membuat wajah mereka menenggakkan kepala, bahwa suatu hari kelak perjuangan mereka akan menjadikan generasi-genari selanjutnya yang lebih kuat.

Sosok Pemuda Ideal di Mata Allah


Jumat, 29 Oktober 2010, 10:50 WIB
   
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kata-kata pemuda dalam Alquran diistilahkan dengan fatan, seperti firman Allah SWT pada surah al-Anbiya [21] ayat 60 tentang pemuda Ibrahim. "Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim'."

Bentuk jamak dari fatan adalah fityah (pemuda-pemuda), seperti kisah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi pada surah al-Kahfi [18] ayat 13. "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk."

Dalam hadis, pemuda sering diistilahkan dengan kata-kata syaabun. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa di antara tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari ketika tak ada naungan, selain naungan-Nya, adalah syaabun nasya'a fii 'ibaadatillaah (pemuda yang tumbuh berkembang dalam pengabdian kepada Allah SWT).

Eksistensi dan peranan pemuda sangat penting. Dalam Alquran ataupun hadis, banyak diungkapkan karakteristik sosok pemuda ideal yang harus dijadikan teladan oleh pemuda yang bercita-cita sebagai orang atau pemimpin sukses. Pertama, memiliki keberanian (syaja'ah) dalam menyatakan yang hak (benar) itu hak (benar) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Lalu, siap bertanggung jawab serta menanggung risiko ketika mempertahankan keyakinannya.

Contohnya adalah pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kecil, lalu menggantungkan kapaknya di leher berhala yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah SWT) sama sekali tidak ada manfaatnya. Kisah keberaniannya dikisahkan dalam surah al-Anbiya [21]  ayat 56-70.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Artinya, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah [2]: 260). Ketiga, selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi [18] ayat 13-25. Jadi, berkelompok bukan untuk hura-hura atau sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Hal ini seperti kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf [12] ayat 22-24. Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi serta tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Hal itu dicontohkah pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang hingga ia menjadi pemuda yang  bergelar al-amin (tepercaya) dari masyarakatnya.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam Alquran dan hadis diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia masa kini. Wallahu a'lam.

Minggu, 21 November 2010

MABIT (20112010)

“Assalamu’alaikum Bang!” ucapnya sambil membungkukkan sedikit badannya dan mengulurkan tangan. “Wa’alaikumussalam!” Jawab si senior SPM yang sedang siaga tawuran, “anak mane luh?” tanya si senior sama kak Sofyan, “Anak Rohis Bang!” Jawab kak Sofyan...”Apaan tuh Rohis?” tanya si senior “Rohani Islam Bang!”

Cerita diatas amat sangat berkesan dan hampir menyelamatkan hidup kakak kita, kak Sofyan. Sebenarnya cerita diatas mengandung banyak hikmah, terutama kebiasaan kita untuk mengucapkan salam yang kemudian memberikan keberkahan tersendiri bagi pribadi kita dan lingkungan sekitar kita. Dahulu kala,,,(dah kaya nge-dongeng nih!) sekolah kita memang punya cerita heroik tentang tawurannya, entah kapan berakhirnya, kalo tidak salah hingga pertengahan tahun 2000-an sekolah kita masih suka diserang sekolah lain. Syukur Alhamdulillah sekarang tidak lagi!

Mabit! Apaan sih...?
Malam Bina Iman dan Takwa...
Makan-makan, Bincang-Bincang...Tidur...!
Bener gak sih...?

Insya Allah pengertian diatas hampir bener kok! Buat ngelengkapin aja nih, mabit itu artinya bermalam atau nginep, kaya jama’ah haji kita yang mabit di,,,dimana ya? Di  mina atau muzdalifah ya? Kurang tau nih, soalnya belum pergi kesana. Alhamdulillah Pengurus Rohis kita kali ini “SUKSES” ngadain MABIT pada hari sabtu ba’da (sehabis) isya di Musholla Bahrul Ilmi, tepatnya tanggal 20-21 November 2010.

Two Thumbs Up deh! Buat pengurus rohis kita kali ini yang berhasil mengangkatkan acara mabit, padahal mereka dalam keadaan yang sangat lelah. Dari pagi hari mereka habis ke senayan, terus siangnya ada acara lagi, dan sorenya mereka harus nyari yang bisa dibakar buat acara mabit! Hehehe...! maksudnya yang bisa dibakar disini kaya ikan bawal or ayam or daging kambing gitu! Tapi karena harganya yang sesuai dengan kondisi kocek rohis adalah daging ayam, jadinya yang di beli ayam deh...
Nyam...Nyam...Nyam...! (jangan ngiler yah...!)

Makasih banyak buat ikhwannya yang dah ngebakarin ayamnya yang rasanya wenak banget! Sampe2 akhwatnya yang belum pada makan dari pagi karena gak sempet, jadi bisa makan duluan...alhamdulillah sehabis makan akhwatnya baru bisa pada tidur.

Tiga hal yang dipesankan kak Sofyan dalam isi tausiyah yang disampaikannya kemarin, ucapkanlah salam, dirikanlah shalat dhuha, dan peliharalah akhlaq kita. Tausiyah yang sangat ringan namun dahsyat hasilnya kalo diamalkan! Kak sofyan, alumni rohis kita angkatan  ’95, sudah 15 tahun berlalu dan beliau masih bersama kita, mendoakan kita, dan memberi tausiah2nya yang indah buat kita, anak rohis. Jazakumullah buat kak sofyan yang dah meluangkan waktu untuk hadir, beliau datang bersama istri dan ketiga anak tercintanya, tepat jam 11.00 malam kak sofyan beserta keluarga harus balik ke rumahnya di daerah cempaka putih. Subhanallah! Hati-hati di jalan kak! Dan semoga Allah memberi keistiqomahan pada kakak! Amiin

Benar juga kata kak sofyan, anak rohis memang harus punya “ke-khas-an”, atau memiliki sesuatu yang khas, atau istilah bahasa betawinya “trade mark (merek dagang)”. Kalo kita berbicara tentang air, pasti yang teringat sama kita itu merek aqua, trus kalo berbicara tentang lampu, pasti yang teringat sama kita itu merek philips, terus kalo berbicara tentang anak rohis, apa sih yang diingat orang tentang kita...? semoga bisa menjadi PR bagi kita untuk kedepannya, agar kita punya ke khasan tersendiri. Kalo kata orang sih, anak rohis itu katanya sih pinter2 akademiknya, akhlaknya bagus, sholat wajibnya terjaga, apalagi shalat sunnahnya, kaya sholat dhuha, dsb...anak rohis yang suka baca alma’tsurat, yang datang ke sekolah tepat waktu (maksudnya ga pernah terlambat gitu), trus setiap waktu dan ngumpul2nya pasti bermanfaat dunia dan akhirat...! bener ga sih...??? Please, BELIEVE US! Anak rohis kayak gitu kok!

Terima kasih banyak sama adik2 kita kelas X yang dah hadir acara mabit, buat Kak syarif yang dah ngasih door prize buat sebagian kita dan bikinin video klipnya, buat kak amir yang dah nemenin mabit bersama “adik kecil”nya, buat kak probo, kak ipin, kak aul, dan yang lainnya...tetap semangat untuk egy , ketua rohis kita yang sedang berjuang! Untuk ke enambelas akhwatnya yang hadir, yang dapet jatah 4 nampan nasi plus ayam bakar, jadi pas satu nampan untuk 4 orang. Buat temen2 pengurus rohis akhwat, keep fight  ya! Tetap semangat! Never give up! Allah bersama kita dalam setiap upaya kita untuk memberikan yang terbaik bagi da’wah kita di rohis.

Jumat, 19 November 2010

Bila Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !

Hitam-Putih Facebook

gaulislam edisi 122/tahun ke-3 (8 Rabiul Awal 1431 H/22 Februari 2010)
 
Setelah kasus heboh Nova-Ari yang mengaku mereka suka sama suka melakukan hubungan badan, Facebook kian disorot. Khususnya sisi negatifnya. Ya, melalui perantaraan situs jejaring sosial inilah Nova dan Ari bertemu dan sekaligus dilanjutkan berkencan di dunia nyata. Nggak hanya kasus Nova-Ari, berikutnya muncul kasus ‘menghilangnya’ gadis berumur 20 tahun asal Bantul. Ada juga mahasiswi asal Jambi yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tak diketahui jejaknya, dan belakangan ketahuan kalo dia ada di suatu tempat bersama kekasihnya asal Brebes. Pertemuan mereka, via Facebook. Oya, nggak ketinggalan kasus 4 orang siswa yang dipecat dari sekolahnya gara-gara menghina salah seorang guru mereka. Nah, mereka melakukan penghinaan tersebut di Facebook. Waduh!

Bro en Sis, deretan fakta terbaru untuk saat ini tentang sisi negatif Facebook perlu menjadi perhatian kita semua. Jangan sampe kejadian tersebut juga menimpa kita. Ih, nggak banget deh! Fakta ini pun sekaligus meyakinkan kita semua bahwa teknologi, tetap saja memiliki sisi positif sekaligus negatif. Kita perlu waspada deh kalo kenyataannya kayak gini sih.

Fenomena Facebook
Facebook memang fenomenal! Situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini digilai oleh lebih dari 350 juta manusia di seluruh dunia. Di sini setiap orang bisa berkomunikasi, bergaul, berinteraksi, bahkan bertransaksi bisnis. Facebook menjadi dunia sendiri. Dunia yang dihuni oleh ratusan juta orang yang memang senang berhubungan dengan sesamanya. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial. 

Fasilitas yang diberikan Facebook memang tak tanggung-tanggung. Selain daftarnya free alias gratis, juga di dalamnya terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi di dunia maya. Facebook sudah menanam beragam fitur yang oke punya (setidaknya sampai saat ini). Ada “note” ini untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran kita. Catat sepuasnya di sana. Jika belum puas bahwa catatan kita akan dibaca banyak orang, kita bisa bikin grup. Facebook menjembatani upaya merengkuh banyak orang melalui sebuah grup. 

Masih ingat kan tentang dukungan Facebookers (sebutan untuk jamaah facebookiyah alias orang-orang yang bergaul di dalam komunitas Facebook) terhadap KPK, khususnya Bibit dan Chandra? Juga menggalang dukungan bagi Prita dan Balqis. Melalui grup ini, pembuatnya bisa mengundang banyak orang untuk bergabung. Disediakan juga “Wall” tempat menumpahkan segala pendapat. Member grup bisa mengeluarkan unek-uneknya di sini. Kalo mau kirim pesan juga bisa. Menyebarkan pesan berharga kepada sebanyak orang itu, dan dengan fasilitas yang gratis, tentu sangat menyenangkan. Kita hanya membayar pulsa telepon atau bayar di warnet, bisa juga nebeng dari fasilitas kantor.

Selain bikin “grup” dan “note”, pengelola Facebook juga memahami betul keinginan manusia untuk interaksi, maka fasilitas chat disediakan, pencarian teman yang unik yang dilacak berdasarkan nama perusahaan, asal sekolah, asal daerah, dan sejenisnya. Selama member yang bersangkutan meng-input data yang sebenarnya, maka biarkan mesin pintar Facebook mencarikannya untuk kamu. Saya sering mengalaminya. Tiba-tiba muncul “saran teman” dari Facebook di beranda akun kita. Beberapa kali mengamati nama-nama yang muncul memori saya mengingatkan masa lalu. Hehehe.. ada teman yang pernah ngilang sejak lulus SMP sekitar 20 tahun yang lalu, eh ketemu lagi. Ada yang loss contact sejak beberapa tahun lalu, tiba-tiba nongol dan nyapa minta di-confirm jadi teman. Wah, asik benar. 

Oya, pengguna Facebook tahu betul fitur-fitur yang ada di dalamnya. Termasuk fasilitas “status” kita yang selalu ‘ditanya’ “apa yang anda pikirkan?” Lalu kita jawab semau kita. Ada yang ngocol, ada yang asal tulis, ada yang protes, ada yang maki-maki, pengeluh, tukang ngasih motivasi, ada yang jualan, dan sebagainya. Di situ setiap orang yang sudah tergabung dengan orang tersebut bisa tahu update statusnya dan bisa ngasih komentar. Paling banter kalo malas ngasih komen, cukup ngasih “jempol” dengan meng-klik “like/suka” terhadap status temannya tersebut. Tapi, di sini kudu ati-ati lho, karena siapa tahu kamu malah jadi ngikutin jejak Evan Brimob yang bikin heboh karena komentarnya yang emosional menyikapi kasus KPK vs Polri. Hehehe… yang aktif di Facebook pasti tahu deh kasus detilnya. Iya nggak?

Bro en Sis, inilah Facebook, salah satu situs jejaring sosial yang ngetren saat ini. Saya punya pengalaman tentang hal ini. Seorang tetangga paman saya di Bandung, minta dibikinkan akun facebook saat saya browsing internet pas berkunjung ke sana dalam suatu acara. Meski dengan pengetahuan seadanya, ia nekat minta dibikinkan akun facebook. Ya, gimana nggak bisa disebut seadaanya, wong istilah e-mail saja dia masih bingung. Sami mawon dengan cara buat e-mail, dia nggak tahu. Padahal, untuk bisa daftar ke facebook kudu punya e-mail. Akhirnya, ya dibuatkan dulu e-mailnya. Lucunya, alasan yang bersangkutan pengen punya akun facebook biar bisa gaul. Nggak kuper lah. Hehehe.. padahal usia udah menjelang pensiun, anaknya udah ada yang kuliah. Tragisnya, pake komputer aja masih gagap. Tapi, dia nggak putus asa, karena Facebook bisa diakses via ponsel. Waduh, benar-benar sudah tergoda Facebook. Prikitiw!

Lain waktu, teman saya cerita bahwa supir mobil odong-odong minta dibikinkan akun Facebook. Oya, istilah odong-odong ini untuk angkutan umum yang kendaraannya udah nggak ada surat-suratnya, operasinya di jalur khusus giliran dengan tukang ojek. Biasanya ke dalam komplek perumahaan yang jauh dari jalan raya. Teman saya yang jaga warnet itu sempat bingung, tapi kemudian supir mobil odong-odong itu bilang bahwa nanti pakenya di ponsel. Wedeh, gaul juga nih supir mobil odong-odong!

Dunia maya lebih menggoda?
Sejak kenal dunia maya, saya penasaran banget. Kenapa penasaran? Karena bisa berhubungan dengan banyak orang di ‘seberang’ sana hanya melalui komputer yang terhubung dengan modem dan perangkat lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan internet. Meski komunikasi lebih banyak via tulisan, tapi rasanya asik-asik aja. Pertama kali diajari chatting, langsung nyetel dan betah berlama-lama. Apalagi ketika sudah kenal e-mail, wuih, makin anteng aja dah di depan komputer. Punya e-mail seperti punya alamat kotak pos sendiri. Urusan komunikasi jarak jauh lebih lancar terjalin. Meski tentu saja nggak interaktif. Tapi tetap asik. Lebih keren lagi ketika era web 2.0 yang ditandai dengan munculnya blog, maka komunikasi di dunia maya jadi lebih dinamis dan lebih variatif. Bahkan melalui blog yang dimilikinya, seorang blogger bisa menyampaikan pendapatnya tanpa perlu kena sensor pihak lain. Kecuali kalo diketahui melanggar term of service yang dibuat situs penyedia blog gratis tersebut, maka situs itu bakalan dibekukan.

Bro en Sis, dunia maya itu ibarat pasar. Apa aja ada. Mau yang gratis, harga murah, dan juga harga mahal. Semua bisa diatur dan ada. Konten atau isi situs yang halal, yang subhat, bahkan yang haram tersedia di sana. Tergantung kita, apakah akan memilihnya atau tidak. Semua berdasarkan pilihan dan tentu saja ada konsekuensinya atas pilihan tersebut. Dunia maya sama seperti halnya dunia nyata, ada yang buruk dan ada yang baik. Ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ada yang halal dan ada yang haram. Pornografi ada, judi ada, gosip bejibun, fitnah marak, motivasi kehidupan banyak, dan dakwah pun gencar. Kebaikan akan selalu berhadapan dengan keburukan. Kesalahan akan bertarung dengan kebenaran. Kelebihannya (sekaligus kekurangannya) di dunia maya, semua orang bisa jadi apa saja dan bisa jadi siapa saja. Phew!

Iya, karena meski di dunia nyata dan dunia maya bisa sama-sama berbohong, tapi di dunia maya kebohongan kita sulit dideteksi. Jika di dunia nyata orang tak mudah untuk mengelabui orang lain dengan penampilan beda jenis, tapi dunia maya hal itu bisa dilakukan. Kita hampir tidak pernah bisa melacak keberadaan seseorang apakah dia berjenis kelamin laki-laki atau wanita. Kita pun hampir tak pernah bisa mendeteksi apakah teman misterius itu baik atau jahat. Ya, di satu sisi, orang bisa ‘bersembunyi’ untuk menasihati orang lain, dan hal itu bisa menjadi kebaikan karena ingin ikhlas dalam beramal. Tapi di sisi lain, orang bisa ‘sembunyi’ untuk melakukan kemaksiatan, dan tentu bisa menjadi bahaya dan dosa bagi pelaku dan juga orang lain. Waspadalah!

Dunia maya memang lebih menggoda. Baik untuk hal yang bermanfaat maupun berbuat jahat. Sebenarnya sama dengan di dunia nyata. Orang bisa berbuat salah dan bisa berbuat baik. Namun, di dunia maya orang akan lebih ‘agresif’ karena halangan-halangan seperti minder, malu, segan, dan rasa inferior lainnya, bisa dikikis habis di balik topeng kepalsuan (jika mau). Percaya atau tidak, banyak yang sudah membuktikannya. Saya juga insya Allah banyak tahu bahwa ada orang yang lebih tampil percaya diri di dunia maya, padahal aslinya di dunia nyata dia orang yang agak minder. Well.. dunia maya memang lebih memberikan atmosfir rasa yang lain.

Seringkali bisa ‘memanipulasi’ fakta yang sesungguhnya dan bisa juga menjadi pemicu orang untuk menunjukkan kemampuan terpendamnya (termasuk aksi jahatnya).

Namun demikian, dunia maya tetaplah dunia maya. Tak selamanya kita hidup di dunia tersebut. Emangnya kalo mau nikah bisa secara virtual? Hehe.. nanti anaknya virtual juga dong? Tetap saja kita akan lebih banyak berhubungan di dunia nyata. Meski dunia maya lebih menggoda, tapi waspadalah, kita tetap hidup bersama orang lain yang bisa saja mereka berbuat nggak benar kepada kita. So, sewajarnya sajalah. Jangan sampai lupa diri, lupa daratan, apalagi lupus alias lupa usia (umur udah bangkotan tapi kelakuan kayak bocah). Jangan juga mudah percaya sama orang yang belum kita kenal, apalagi awal mengenalnya via Facebook. Kalo diajak ketemuan, tolak saja. Nggak ada jaminan kan kalo dia bakalan baik sama kita? Terus, jangan  memberikan informasi detil tentang diri kamu.  Kita nggak tahu kan, kalo kita ternyata jadi  sasaran kejahatan mereka? So, waspadalah!
 

Followers

Blogger Tricks

free counters