Minggu, 05 Desember 2010

ROHIS SMAN 23 2009-2010

Jumat, 03 Desember 2010

Hijrah Yuk!



Hijrah koq ngajak2...? ya iyalah, kan biar rame, biar ada temen, biar ada ngingetin...! btw, apaan sih hijrah? apakah hijrah cuma ada pada zaman nabi aja? apakah saya yang biasa2 aja bisa ber-hijrah? yang pasti jawabannya adalah hijrah terjadi juga pada zaman kita dan siapapun kita dapat berhijrah!. Menjadi anak rohis sma negeri 23 pun salah satu bentuk hijrah.

Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H ada baiknya kita memaknai bersama makna perayaan Tahun Baru Islam tersebut. Oya, Tahun Baru Hijriyah diawali pas Rasulullah dan para Sahabatnya berhijrah ke Madinah.

Sepengetahuan kita semua, berapa kali sih terjadi peristiwa Hijrah itu pada Masa Kenabian Muhammad SAW? satu, dua atau tiga? Benar, Hijrah pada masa itu terjadi sebanyak tiga kali, yang pertama hijrah ke Habasyah (Rasulullah tidak ikut serta, hanya para Sahabat), yang kedua ke Thaif (Rasulullah dan asistennya saja, tanpa para sahabat) dan terakhir ke Madinah (Rasulullah dan para Sahabat). Kalau penasaran jawabannya, buka aja buku Shirah Nabawiyah ya, karangan Ramdhan Al-buthy, trus kalo belum punya, pinjam aja sama kakak2 alumninya.

Hijrah itu sama seperti moving atau bergerak atau berpindah. Shalawat dan Salam bagi Nabi kita, sosok yang teramat tangguh dalam berhijrah dan sangat istiqomah dengan hijrahnya. Sejujurnya, rasanya kita harus semakin bangga menjadi seorang muslim dan menampilkan keislaman kita. hal ini dapat kita lihat pada dasar dalam penanggalan hijriah atau Tahun Baru Islam, berbeda dengan sistem penanggalan Masehi yang kita pakai saat ini, dasarnya adalah kelahiran kristus atau Isa Al-Masih (Masehi), hanya saja semoga penanggalan hijriah dapat menjadi penanggalan dunia menggantikan penanggalan Masehi,,,amiin.

Pada momen yang sangat berharga ini, mari bersama kita berintrospeksi diri dan menjadikan momen hijrah ini sebagai langkah awal kita untuk berubah. Tahapan dalam hijrah itu ada 3, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu Iman, Hijrah dan Jihad. Kenapa kita harus beriman dulu sebelum berhijrah? apakah kita sudah beriman kepada Allah? atau kita baru berislam? semoga Allah beri kita kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan kita beriman kepada-Nya, amiin. Setelah kita beriman, baru kita dapat berhijrah, hijrah atau metamorfosis (seperti rencana tema Tafakur Alam tahun 2010 ini), minadzdzulumati ilannuur, hijrah dari kondisi yang jahil kepada cahaya islam, hijrah dari keraguan kepada keyakinan, hijrah dari keputusasaan kepada semangat, hijrah dari sekedar berkata menjadi beramal atau action!, dan sebagainya. Setelah berhijrah Allah anjurkan kita juga untuk bersungguh-sungguh atau berjihad dengan hijrah kita tersebut. Hijrah tanpa kesungguhan atau keistiqomahan seperti orang main skipping, loncat ke atas dan balik ke titik semula, atau balik pada keadaan semula. Selayaknya hijrah seperti orang hiking, atau mendaki...tapi jangan mendaki gunung merapi atau bromo ya, karena statusnya masih siaga atau awas. Hijrah seperti climber, menjadikan pribadi kita untuk terus dan terus memperbaiki diri tanpa henti. Tidak peduli seberapa gagal kita berusaha untuk memperbaiki diri dihadapan Allah, namun saat kita terus bertahan dalam kesungguhan kita, saat itulah posisi hati kita kepada Allah senantiasa dalam keadaan terbaik. Wallahua'lam bisshawab.

Manis-Pahitnya Dakwah

Kamu jadi aktivis rohis? Berbahagialah, karena kamu udah peduli dengan nasib dirimu, dan juga kawanmu. Maklumlah, anak rohis kan identik banget dengan kegiatan keislaman. Bahkan jadi ciri khas bahwa anak rohis adalah anak-anak yang hobinya ‘nyeramahin’ anak lain. Tapi jangan salah lho, bukan berarti aktivitas itu tanpa risiko. Ada aja risiko yang kudu kamu tanggung. Bahkan mungkin kudu dibayar mahal. Bener. Maka jangan kaget kalo anak rohis, selain banyak temannya, juga nggak sedikit ‘musuh’nya.

Sobat muda muslim, sebenarnya aktivitas dakwah nggak dibebankan kepada anak-anak yang udah biasa ngetem di masjid aja. Anak-anak lain, asal dia muslim or muslimah, juga punya tanggung jawab yang sama untuk mengingatkan teman lain kalo berbuat maksiat. Pendek kata, kamu yang bukan anak rohis pun, punya juga kewajiban menyampaikan Islam kepada siapa saja. Itu artinya, dakwah emang bukan spesialis anak rohis aja. Semua orang bisa dan bahkan kudu bin wajib melakukan dakwah. Nggak dikavling-kavling tugasnya.

Kadang bagi sebagian remaja, mengingatkan teman yang berbuat maksiat gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang kali yee..?). Yup, dua-duanya juga bener. Begini, dibilang gampang, emang gampang. Kita tinggal ngomong atau sekadar nulis apa yang kita nggak suka terhadap apa yang dilakukan sebagian teman-teman kita. Beres kan? Tapi kadang susah juga buat sebagian teman kita. Apa susahnya? Pas mau ngomong ngingetin teman, suka nggak enak, sungkan, dan seabreg kendala teknis lainnya. Nha lho, ati-ati tuh!

Kalo susah-susah gampang gimana? Begini, sebagian dari kita kadang susah banget untuk menjalani aktivitas ini. Masih ngukur-ngukur diri. Katanya sih, belum layak kalo harus ngingetin orang, sementara dirinya merasa masih belepotan dosa. Hmm… padahal, apa susahnya cuma ngingetin. Iya nggak? Lagian, dengan begitu kita jadi punya tanggung jawab moral. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh juga kan sikap ingin menyesuaikan dengan apa yang kita ucapkan. Betul? Yakin itu. Jadi ternyata gampang juga kan? He..he. udah deh, kita nggak usah ngeributan istilah gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Nyang penting jalanin aja deh aktivitas mulia ini.

Seperti sekarang nih, maksiat kian merajalela. Media massa cetak dan elektronik getol ikut membantu mensyiarkan kemaksiatan. Hasilnya? Kita semua dikepung dari berbagai arah penjuru angin. Nyaris nggak bisa bernafas. Semua media seperti seragam; memberi menu pornografi, kekerasan, dan juga seks. Kalo pun ada media Islam, ‘sinyal’nya nggak begitu kuat untuk mengalahkan dominasi bacaan dan tayangan yang mengabaikan aspek moral dan ajaran agama. Menyedihkan.

Itu sebabnya, peran kita dalam dakwah juga harus terus diaktifkan. Nggak kenal lelah, pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Nyalakan terus semangat di jiwa kita. Dakwah adalah jalan yang harus kita tempuh, apa pun risikonya. Sebab, tanpa dakwah, kemaksiatan ini makin membudaya dan orang yang bermaksiat kian merasa aman. Betul?
Aktivitas yang mulia
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja?
Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah: “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja Muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin meroket? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan mereka.

Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya.

Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atawa Rambo yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah.
Subur dengan cobaan
Sobat muda muslim, aktivitas mulia ini ternyata kudu berhadapan dengan segala risiko. Risiko yang nggak jarang bikin kita sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)

Coba, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu, beliau harus rela menyaksikan kedua ortunya gugur sebagai syuhada di depan mata kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah, Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di hatinya.

Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa pahit yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Kontan aja berbagai penyiksaan dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.

Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?

Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat [41]: 30)

Oke deh, nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah bisa mengantarkan kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!?

Ikhwan harus BERANI...!!

Tayangan televisi yang menguji keberanian kian menjamur menghibur pemirsa. Reality show ‘Tantangan', ‘Berani Donk', ‘Nekatz', atau ‘Fear Factor' begitu menarik perha-tian. Buktinya antusias masyarakat untuk ikut ambil bagian membludak. Udah ditonton banyak orang, diliput, dapet duit lagi. Meski tantangan-nya agak-agak gokil tetep aja sang kontestan yang didominasi cowok pantang mundur. Disuruh makan cacing, dibotakin kepalanya, atau berjalan di atas seutas tali yang meng-hubungkan dua gedung bertingkat juga nggak masalah. Hmm…bidikan produser acara emang tepat. Siapa yang nggak mau nunjukkin keberaniannya. Apalagi remaja cowok. Bener?

Sebagai cowok pasti mokal (baca: malu) dong kalo dikatain chicken alias penakut. Masa' mau disamain ama Scooby Doo en Shaggy . Makanya banyak remaja cowok yang berusaha nunjukkin kalo doi pemberani dan suka tan-tangan. Apalagi pas lagi ada demenannya. Udah deh, lagaknya bak pahlawan bertopeng pembela kebenaran. Nggak cuma di mulut bilang berani, mereka juga unjuk gigi (Mandra kaleee…).

Ada yang doyan kebut-kebutan motor atau mobil di jalanan. Berisiko tinggi dan dijamin nggak malu-maluin kalo balapan ama bajaj Bajuri. Ada yang berlaga jadi bad boy alias co-wok badung. Dandanan sekenanya dengan rambut acak-acakan, baju untouchable by water (nggak pernah dicuci) selama seminggu, plus tindikan anting di hidung dan kuping.

Hobinya juga bolos, berantem, tawuran, sampe nge- drugs . Ada juga yang hobinya hiking, camping, atau travelling dengan modal seadanya. Ikat kepala, sandal jepit, serta tas ransel yang dihiasi cerek atau panci. Biar lebih menantang mereka berjalan kaki. Meski kadang-kadang nebeng di mobil bak terbuka atau truk yang berhasil mereka boikot di tengah jalan. Nestapa banget deh keliatannya. Persis kayak peserta training hidup sengsara . Hihihi…..(emang ada?)

BTW, ternyata nggak semua cowok pem-berani, macho, atau maskulin. Ada juga lho yang kadar keberaniannya masih di bawah 4,0 meski udah dikonversi (emangnya nilai UAN?). Nggak berani terima tantangan, apalagi sampe adu fisik. Malah cenderung cantik dan feminin. Body boleh atletis, tapi wajahnya itu seram alias sen-yum ramah. Perilaku dan tutur bahasanya luwes binti kemayu. Gayanya malah gagah gemulai. Bawaannya juga nggak jauh dari tas tangan, kipas, plus kosmetik. Sebangsanya ‘Somad' dalam ‘Cintaku di Rumah Susun' gitu deh.

Selain kedua tipe di atas, ada juga cowok yang biasa. Banyak malah. Biasa berantem, biasa kebut-kebutan, biasa tampil cantik, biasa ngegosip dll. Hehehe…becanda dink. Maksudnya cewek banget juga nggak, tapi doi kagak berani nerima tantangan. Datar-datar aja hidupnya. Kayak kubangan air diselokan yang mampet. Seolah nggak ada keinginan untuk selangkah lebih maju atau menggali potensi diri. Cowok kayak gini yang patut dipaksa jadi peserta Fear Factor atau boleh juga ngikut acara “Tan-tangan” . Betul ? Betuuuul...! Makasih. Hehehe..

Berani terima tantangan

Sobat muda muslim, tantangan (bukan acara TV lho) udah jadi bagian yang terpisahkan dalam hidup kita (ciee… berlagak jadi pujangga nih ceritanya). Sama nasibnya dengan oksigen yang tiap hari kita hirup. Tiap orang pasti punya masalah dan tantangan yang kudu diatasi. Kalo ada yang sok bilang nggak punya masalah, itu berarti masalah buat dia. Tapi bukan berarti kita nyari masalah. Bisa urusan ama aparat entar. Berabe dong.

Maksudnya, tanpa kesulitan, kita nggak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Nikmatnya sembuh pasti karena kita pernah merasakan nggak enaknya sakit yang serba kesulitan. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, bakal bikin kita lebih kuat. Punya pengalaman biar nggak terulang. Setiap tantangan yang dilewati, mengizinkan kita untuk tersenyum bahagia. Tantangan juga bikin hidup lebih dinamis dengan turut membantu menggali potensi diri kita. Coba bayangin, betapa garing hidup kita jika segala sesuatu yang kita inginkan gampang banget didapetin (emangnya kantung ajaib Doraemon?)

Itu sebabnya, udah sepatutnya kita tumbuhkan sikap berani. Berani hadapi tantangan hidup dan segala risiko dari keputusan yang diambil. Kita nggak perlu ngabisin tenaga buat lari dari masalah. Kecuali jika kita nggak tengsin dibilang pecundang sejati. Karena masalah menghampiri kita untuk diatasi, bukan dihindari.

Tapi perlu hati-hati, jangan sampe keliru. Sikap berani laen ama nekatz (pake ‘z' biar sangar). Jelas banget bedanya. Kalo berani, biasanya sudah diperhitungkan dan penuh perencanaan. Kita udah punya bekal buat ngadepin segala risiko yang bakal terjadi. Tapi kalo nekatz cenderung sembrono. Bisa dibilang nggak ada perencanaan. Apalagi persiapan untuk ngadepin kejadian-kejadian berikutnya. Bisa kacau-balau deh urusannya.

Terutama buat remaja cowok, sifat berani tanpa dibumbui nekat seperti yang udah diuraikan di atas nggak boleh lepas dari dirinya. Wajib nempel kayak perangko. Kalo perlu pake BB Harum Sari. Soalnya kelak banyak tanggung jawab yang mangkal di pundak mereka. Kalo udah waktunya, kita bakal jadi kepala keluarga boo. Untuk saat ini, kita bisa ambil bagian dalam melin-dungi keluarga, adik, kakak, atau ibu. Minimal jadi pemain ca-dangan buat ayah kalo se-waktu-waktu beliau cedera atau terkena kartu merah. Maka-nya dari sekarang, asah deh tuh sikap anticengeng dan pan-tang menyerah. Biar pantas menyan-dang julukan pejantan tangguh. Yoi nggak Coy?

Dalam dakwah pun kita berani

Sebagai muslim, pasti julukan pejantan tangguh itu akan sejajar dengan paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, pemimpin para syuhada. Kok bisa? Kenapa nggak, kita kudu berani terjun ke dunia dakwah dan meneladani beliau. Berani mengatakan terikat dengan aturan Allah dalam setiap perbuatan itu wajib dan sekularisme itu haram. Meski ada sebagian masyarakat atau penguasa yang merasa risih dengan pendapat ini. Pokoknya tetep maju pantang ngacir.

Terjun ke dunia dakwah belom komplit tanpa dilengkapi keberanian menghadapi risiko dakwah. Sebab di sana banyak berkeliaran tantangan yang acapkali bisa melemahkan semangat dakwah kita. Ngadepin omongan orang yang sinis, mencemooh, sampe yang tega menyerang secara fisik. Makanya kita juga kudu siap pasang badan. Kalo perlu ikut bela diri semacam capoera yang lagi digandrungi remaja. Tapi nggak usah kuatir. Risiko apa pun yang menghadang kita dalam dakwah itu akan menjadi penolong kita untuk dapetin ridho Allah. Setiap harta, tenaga, pikiran, dan waktu yang dikorbankan akan bernilai guede buanget di hadapan Allah. Mau dong?

Sobat muda muslim, kudu digaris bawahi plus dipertebal pake stabilo, dakwah nggak ada hubungannya dengan mendekatnya ajal, seretnya rizki, atau menjauhnya jodoh. Yang ada justru Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, meluaskan rizkinya, dan menjanjikan pasangan hidup yang baik plus bertakwa bagi orang-orang yang selalu berusaha terikat dengan aturan-Nya. Pengemban dakwah yang istiqomah masuk dalam kategori ini. Catet tuh!

Allah swt. Befirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Jangan-lah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalam-nya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS al-Fushilat [41]: 30-31)

Jadi pemberani sejati

Sobat muda muslim, pernah denger sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abdullah bin Rawahah? Kalo belum, kamu wajib tahu. Soalnya dialah sosok pemberani yang mengobarkan se-mangat 3000 pasukan kaum muslimin yang mulai ketar-ketir ngadepin 200.000 pasukan ga-bungan Romawi pada saat perang Mu'tah.

Beliau bilang: “ Wahai kaum Muslimin, sesung-guhnya yang hendak kalian hindari (perang ini) justru adalah jalan mencari sya-hadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan. Menang atau mati syahid!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an- Nihayah , Juz III/428)

Dalam hal pengorbanan kepentingan pribadi demi Allah, kita bisa mencontoh figur Sa'di bin Amir yang diprotes sang istri karena besarnya infaq yang dikeluarkannya di jalan Allah. beliau berkata: “Ketahuilah bahwa di dalam surga banyak terdapat bidadari yang cantik-cantik selain keindahan-keindahan yang mengagumkan, yang jika satu saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, niscaya akan menerangi semua yang ada. Sungguh kekuatan cahayanya sama dengan kekuatan cahaya matahari yang digabungkan dengan bulan sekaligus. Maka mengorbankan dirimu untuk mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada aku mengor-bankan mereka demi dirimu.”

Nah sobat, keberanian yang ditunjukkan Abdullah bin Rawahah atau Sa'di bin Amir cuma sebagian aja dari banyaknya kisah keberanian para sahabat. Kita dan mereka sama-sama muslim. Karena itu kita juga bisa seperti mereka. Untuk itu, berikut kita kasih beberapa tips yang mungkin bisa membantu menum-buhkan keberanian sejati dalam diri kita:

(a). Pelajari makna hidup ini (untuk apa kita hidup). Buat kita, tentu tujuan hidup udah jelas. Hidup mulia, wafat masuk syurga. Ini bisa didapetin kalo memahami Islam ideologis. Sudah terbukti, sudah teruji, bikin orang jadi berani.

(b). Anggap yang lain sama seperti kita, meski tetap hormati dan hargai kelebihan masing-masing. Jadi nggak ngeper duluan lihat orang lain. Karena sama-sama makhluk ciptaan Allah yang lemah. Bedanya, Allah Maha Kuasa akan selalu bersama kita saat kita berani istiqomah dengan aturan-Nya.

(c). Percaya diri. Ini penting banget. Karena Allah nggak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan kita sebagai manusia. Karena itu kita yakin pasti bisa menjadi pengemban dakwah yang istiqomah.

(d). Jalan yang kita tempuh adalah kebenaran. Iya dong. Masa masih ragu dengan aturan Allah yang benar, mulia, dan sempurna?

(e). Sering membaca biografi orang yang terkenal berani. Jangan sampe kelewat. Biar bisa jadi motivasi sekaligus meneguhkan keyakinan kalo istiqomah itu bukan impian, tapi kenyataan yang bisa diusahakan dan diwujudkan.
Oke deh sobat, semoga tips di atas bisa banyak membantu. Buat semuanya, mari kita bangkit menghadapi tantangan pahit. Agar hidup kita terasa manis. Buat remaja cowok, tanamkan dalam diri kita prinsip, “berani karena benar.” Bukan karena dibayar. Ini baru pejantan tangguh nan syar'i . Tetep berani dan istiqomah! Allahu Akbar!

http://rohis.org/ written by ASM

Rabu, 01 Desember 2010

Cinta Tanpa Koma

Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.

Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan. amai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan. Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?

Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.

Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.

Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?

Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.

Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”

Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)

Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.

Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta'ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)

Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.

Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”

Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti

dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)

Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan.

www.dudung.net

Kamis, 25 November 2010

Sejarah Rohis SMAN 23 Jakarta

Sejarah Rohani Islam SMAN 23 Jakarta tidak dapat dipisahkan dari sejarah sekolah kita sendiri, alamamater kita tercinta, SMA Negeri 23 Jakarta. Jika SMA Negeri 23 Jakarta sudah ada sejak tahun 1966, dengan Kepala Sekolah Pertamanya Bapak R. Harsoehadi, maka Rohis SMAN 23 baru lahir 12 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1988. Sudah cukup tua ya! Mungkin kita juga belum lahir!

Seperti diceritakan dari para alumni-alumni generasi awal (ashabiquna awwalun), meskipun ROHIS SMAN 23 Jakarta sudah ada sejak tahun 1988, namun saat itu Rohis masih merupakan bagian organisasi yang belum berdiri sendiri, acara-acara yang diangkatkanpun masih berupa Perayaan Hari Besar Islam berupa acara Maulid-an yang diangkatkan bersama-sama dengan OSIS. Pada periode ini, sekitar tahun 1988-1989 ketua Sub-organisasi Kerohanian Islam diketuai oleh Dede Sutisna. Saat Bapak Dede Sutisna menjabat sebagai ketua Rohis, Kepemimpinan Sekolah dikepalai oleh Bapak M. I. Nicky Ginoga sebagai Kepala Sekolah Ke-8.

Meskipun Rohis baru lahir 12 tahun kemudian sejak berdirinya SMAN 23, namun rohis sudah menghasilkan kepemimpinan generasi sebanyak 23 angkatan (terhitung sejak tahun 1988-2010), sedangkan Kepemimpinan Sekolah baru sebanyak 15 angkatan. Ya iyalah, kan periode kepengurusan Rohis setahun sekali, sedangkan masa jabatan Kepala Sekolah bisa lebih dari satu tahun, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun.

No. Periode Nama Ketua Rohis SMAN 23 Jakarta
1. 1988 – 1989 Dede Sutisna
2. 1989 – 1990 Suharto
3. 1990 – 1991 Dwinanto Prastowo
4. 1991 – 1992 Nurhasan
5. 1992 – 1993 Mohammad Nur
6. 1993 – 1994 Kosasih
7. 1994 – 1995 Surahman
8. 1995 – 1996 Rommie Yanto
9. 1996 – 1997 Cepi Parman
10. 1997 – 1998 Junaedi
11. 1998 – 1999 Asep Supriyatna
12. 1999 – 2000 Lukmanul Hakim
13. 2000 – 2001 Anas Malik Farhan
14. 2001 – 2002 Dwi Armada
15. 2002 – 2003 Muhammad Iqbal
16. 2003 – 2004 Muhammad Syarif Hidayat
17. 2004 – 2005 Probo Setiawan
18. 2005 – 2006 Febriyansyah
19. 2006 – 2007 Raden Gumilar
20. 2007 – 2008 Khalil Gibran
21. 2008 – 2009 Khaidir Alatas
22. 2009 – 2010 Muhammad Arip Aprianto
23. 2010 - 2011 Muhammad Egy Subentra

Mungkin status Rohis hari ini tidak begitu jauh berbeda dengan Rohis pada tahun-tahun awal, yaitu Rohis sebagai Sub atau Sie dari OSIS, namun sayangnya Rohis pada tahun ini belum memiliki anggota. Kepemimpinan Rohis pun dilanjutkan oleh Bapak Suharto (Bukan presiden RI ke-2 ya!). Di kepemimpinan beliau Rohis mencoba untuk mandiri, maksudnya mandiri dalam kegiatan. Jadi, walaupun Rohis tetap sebagai Sub-organisasi OSIS, pada periode ini Rohis mencoba berdikari sebagai organisasi, mengangkatkan acara sendiri, dan mendeklarasikan ketua Sie Kerohanian Islam juga sebagai Ketua Rohis, hasilnya seperti yang sudah kita rasakan sampai saat ini.

Periode Rohis yang dipimpin oleh Bapak Suharto ini belum memiliki anggota, karena baru ”minggat” dari rumahnya. Merasa membutuhkan generasi penerus yang melanjutkan perjuangan da’wah Rohis, maka dilaksanakan Open Recruitmen pertama kali. Open Recruitment anggota dan pengurus rohis pertama ini baru dimulai dengan memanfaatkan momen Pelaksanaan Hari Besar Islam, seperti maulid-an dan sebagainya. Kalo sekarang momen perekrutan dilakukan saat Open House, kalo kemarin saat Maulid-an, kalo kemarin masih ada acara Maulid-an dan belum ada Open House, sekarang masih ada acara Maulid-an gak ya?

Rohis pada periode ini juga sudah mulai kondusif karena sekolah kita yang di Tomang sedang di renovasi dan kita menumpang di Sekolah SD di Bilangan Anggrek Nelly Murni, Palmerah Utara. Saat itu gedung SMAN 23 direhabilitasi total menjadi tiga lantai lengkap dengan Lab. IPA, Lab. Bahasa, Perpustakaan, dan AULA (seperti yang dituliskan pada situs sekolah SMAN 23 Jakarta). Para alumni generasi awal saat itu melobi Kepala Sekolah SD tempat kita numpang untuk meminjam ruang gudang sebagai musholla dan sekaligus sebagai base camp / pusat kegiatan Rohis.

Satu Kebanggaan tersendiri tentang Rohis pada periode ini adalah bahwa Rohis SMAN 23 Jakarta adalah Rohis pertama di Jakarta Barat yang menyelenggarakan Pentas Nasyid di sekolah. Nasyid yang dulu dibawakan berjudul “Laatas alu” ( Jangan Kau Tanya) & “Ribathul Ukhuwah” ( Tali Persaudaraan), nasyidnya berbahasa arab, jadi terjemahan nasyidnya di bacakan sebagai puisi mengiringi nasyidnya. Salah satu pembawa nasyidnya (Munsyid) adalah Ka Nanang Kurniawan. Pada periode Rohis kali ini juga, Halaqoh Tarbiyah (halaqoh-lingkaran/mentoring, tarbiyah-pembinaan/pendidikan islam) terbentuk satu kelompok (ikhwan), dan halaqoh tarbiyah inipun yang memberikan energi dahsyat saat itu dalam perkembangan da’wah dan syi’ar islam di SMAN 23 Jakarta.

Masih berlokasi di Sekolah Dasar di Bilangan Palmerah, estafet Rohispun berlanjut, yaitu pada tahun 1990-1991, Ketua Rohisnya dilanjutkan oleh Kakak Dwinanto Prastowo, sekarang beliau adalah Superviser Quality Control (Spv QC) di PT Bogasari. Saat beliau menjabat sebagai Ketua Rohis, sebagai Pembina Rohisnya adalah Ibu Rosmini Rasul dan Bapak Ahmad Basyuni Syarief (Alm). Pada era ini, Halaqoh Tarbiyah Akhwat mulai terbentuk, anggota-anggotanya adalah Kakak Santi Tungka, Dilla Laswantina, Ety Wahyuniaty, Elsi Marlini, Sri Sayekti,,,

Alhamdulillah dengan Halaqoh Tarbiyah, ROHIS menjadi kegiatan ekstrakurikuler paling dominan dibandingkan ekstrakurikuler lainnya dalam wadah OSIS. Anggotanya disegani, bukan hanya dari kalangan siswa, tapi juga dikalangan guru. Anggota Ekskul lain (PMR, KIR, Paskibra) banyak juga yang akhirnya bergabung dengan kegiatan Rohis.

Pada Periode ini juga Rohis 23 menjadi ekskul pertama yang melaksanakan kegiatan di luar sekolah yang menginap di luar kota selama 3 atau 4 hari dalam Kegiatan TAFAKUR ALAM (TA). Ini adalah kegiatan TA pertama dalam sejarah ROHIS 23, yang di setujui pihak sekolah dan dikuti pula dengan guru sekolah.

Pada periode ini juga ROHIS pernah mengadakan pelajaran Bahasa Arab (yang ngajar bhs Arab saat itu Kak Salman - Alumni pesantren). sayang hanya berlangsung singkat, tidak sampai 1 semester kegiatan terhenti karena pengajarnya berhalangan. Kemudian Kepemimpinan Rohis dilajutkan oleh Kak Nur Hasan (1991-1992).

Mushalla Bahrul Ilmi, sebagai tempat shalat dan pusat kegiatan keislaman, merangkap sebagai sekretariat dan base camp-nya anak rohis baru dibangun pada tahun 1992, tepatnya pada tanggal 14 Desember 1992 pada masa Kepala Sekolah Ruhanta Sastradipura, dan diresmikan oleh Kanwil Depdikbud pada tanggal 25 Juli 1994 oleh Drs. H. Tating Karnadinata.

Merunut sejarah berdiri dan perkembangan Rohis sejak tahun 1988 hingga tahun 2010, dengan telah mengalami 23 angkatan, belum diperoleh informasi tentang siapa-siapa saja para ashabiquna awwalun itu, para founding fathers (bapak pendiri) yang telah menggagas berdirinya rohis. Kemudian menjadi maklum bahwa tanggal berdirinya Rohispun belum diketemukan, mungkin akta kelahiran Rohis masih terselip di suatu tempat atau masih harus didapatkan informasi-informasi tentang sejarah Rohis dari para “saksi hidup”. Semoga sejarah Rohis diatas semakin menguatkan langkah kaki kita untuk mengembangkan da’wah Rohis agar semakin rapi dan semakin baik dari tahun ke tahun. Amiin yaa Rabbal ‘alamiin.

Senin, 22 November 2010

SESAAT UNTUK SELAMANYA

Oleh Lathifawati Hikmah pada 14 November 2010 jam 23:16

hem, sering orang mendengar KESETIMBANGAN di kimia . sering orang belum memahami atau mengerti kesetimbangan . kesetimbangan sebenarnya berada pada diri masing-masing . kesetimbangan itu bisa diukur, dinilai, dan dipahami diri masing masing.

Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia taat dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi semua itu bermacam-macam setelah manusia diciptakan . di dalam diri manusia mempunyai hati, pikiran, dan nafsu . makanya sisi manusia ada yang baik ada yang salah, ada yang baik ada yang jahat . itu semua yang membuat manusia berubah-ubah.

dunia akhirat? kadang hanya sebagai ceramahan sesaat . tanpa ia sadari waktu yang terus berlanjut akan membuktikan semuanya . di dunia ini tak ada yang kekal dan mempunyai kekuasaan untuk mengendarai keadaan dan kehidupan dunia ini . semua yang diberi kedudukan sebagai khalifah, itu hanya agar khalifah itu menjaga saudara-saudaranya terhadap ancaman, dosa, dan kesalahan . khalifah bukan untuk memerangi saudara antar saudara, bukan membela untuk hak dirinya, dan bukan untuk keegoisan semata.

sungguh ALLAH maha ADIL . "diciptakan tapi tak melaksanakan perintahnya maka ia berdosa, dan sebaliknya jika ia melaksanakan perintahnya ia mendapat pahala" (ia disini untuk ciptaannya) . sungguh ALLAH maha KUASA . apa yang ada di dunia diriNYA kendalikan karena diriNYA lah yang menciptakan.

apa yang dilakukan untuk dunia hanya mendapatkan dunia saja . tapi jika niat untuk Allah maka insyaAllah dunia dan akhirat akan didapatkan . SAUDARAKU, jangan pernah menyesali apa yang sudah diperbuat tapi renungkanlah, intropeksilah . jika itu disesali malah akan membuat diri jadi sedih dan sakit rohani jasmani . jangan pernah menyalahkan suatu hal yang membuat diri semakin terpuruk karena tak akan ada kebaikan didalamnya malah akan menambah keburukan dan keterpurukan pada diri sendiri.

pesanku : "SAUDARA-SAUDARAKU SERUKANLAH KEBENARAN DAN KEBAIKAN KEPADA SAUDARAMU YANG LAIN AGAR MEREKA MENGERTI KENAPA MEREKA DICIPTAKAN, BAGAIMANA BISA MEREKA DICIPTAKAN, SIAPA YANG MENCIPTAKAN MEREKA. TAPI INGATLAH MENYERUKAN SEMUA INI DENGAN TETAP BERPEGANG TEGUH PADA AL-QURAN DAN HADITS."

nb : ini hanya sesaat tapi untuk selamanya karena dakwah itu tak mengenal diam atau berhenti. tapi, orang yang mendakwahkan wajib beristirahat untuk kesehatan jasmaninya. ini hanya sesaat tapi akan berbuah keindahan :)

A L U M N I

Berbagi cerita tentang rohis sma negeri 23, atau biasa kita singkat rohis 23, yang begitu teringat dibenak kita adalah para alumninya, betapa kehadiran dan kontribusi mereka sangat dirindukan. Mungkin belum begitu terasa saat ini bagi yang sekarang masih menikmati waktu sekolah, tapi bagi para pengurus rohis alumni adalah sumber kekuatan kami dalam bergerak, kehadiran mereka begitu dirindukan. Pun bagi kami saat ini yang telah menjadi alumni, kerinduan kami pada para alumni-alumni sebelum kami yang dahulu membentuk “karakter” kami begitu kuat. Ruh-ruh kami begitu merindukannya dari kejauhan ruang dan keterbatasan waktu.

Terasa hambar rasanya sebuah kegiatan yang rohis angkatkan, tanpa kehadiran alumni. Ketika salah seorang alumni yang berkesempatan hadir mengikuti sebuah acara rohis, yang ditanyakan pertama kali oleh anak-anak rohis adalah “alumni yang lain mana kak?” kemudian percakapan menjadi hening sejenak, karena sang alumni tidak tahu harus menjawab apa?

Dalam sebuah kesempatan saat kami bersilaturrahim ke rumah salah seorang alumni, kami bercerita banyak tentang kondisi rohis hari ini dan kondisi rohis kemarin, suka dan duka bercampur dalam percakapan kami. Diskusi yang cukup singkat, namun menghasilkan satu pesan singkat yang padat, betapa kami para alumni pun begitu merindukan momen-momen dan kebersamaan seperti dahulu.

Kami lupa dengan betapa jenuhnya kami dahulu menghadiri rapat-rapat sepulang sekolah atau rapat diluar waktu sekolah. Rapat persiapan Tafakur Alamlah, rapat Hari Besar Islam lah, rapat inilah, dan rapat itulah, walaupun saat rapat itu ada alumni juga. Namun kami tidak akan pernah lupa, saat kami bersama para alumni, mendaki ketinggian curug untuk merasakan segarnya air terjun! Bersama para alumni rapat di penghujung malam di lokasi Tafakur Alam untuk mempersiapkan acara Tafakur Maut, acara Riyadhoh, atau games. Bersama para alumni yang tidak pernah malu menangis di samping kiri dan kanan kami saat bermuhasabah bersama kami selepas qiyamullail. Kami tidak akan pernah lupa saat kami makan bersama para alumni dalam satu talam/nampan, menikmati hidangan yang telah dipersiapkan oleh para pengurus rohis dalam sebuah acara.

Singkat memang masa-masa SMA yang kita rasakan, hanya tiga tahun, tapi kalo ada yang lebih cepat dari tiga tahun ataupun lebih lambat dari dua tahun, pasti itu murid-murid “ruarr biasa!”. Tiga tahun berlalu setelah melewati masa SMA, kali ini kami merasakan jadi alumni. Jujur, tiga tahun berlalu ataupun lebih dari itu, mungkin di benak sebagian para alumni rohis, kenangan semasa SMA yang begitu kuat adalah kenangan selama mengikuti kegiatan rohis ketimbang kenangan-kenangan lainnya.

Mengikuti kegiatan rohis, emosi kami terlibat, karena kami begitu menikmati setiap kegiatan-kegiatan yang diangkatkan, melewati banyak rintangan bersama, sehingga kami begitu mengingatnya. Entah kenapa walupun sebagian kita pernah menjadi duta yang diutus sekolah untuk mengikuti sebuah lomba atau kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lembaga atau institusi pendidikan lainnya, kami tidak begitu ingin mengingatnya, walaupun saat itu kami pernah memiliki perasaan bangga. Bangga karena umumnya yang diutus untuk lomba-lomba dan seminar adalah anak rohis! Itu aja!.
Menjadi alumni yang mau berkontribusi dengan da’wah sekolah adalah pilihan. Kenapa pilihan, karena tidak dipaksakan, karena jika tidak mau berkontribusi juga tidak berdosa. Adalah pilihan kita sebagai alumni untuk hanya memantau maju mundurnya da’wah sekolah ini “dari jauh” atau “dari dekat”. Adalah pilihan kita sebagai alumni untuk “hanya melihat” segelintir alumni lainnya yang turun dalam da’wah sekolah, atau ikut terlibat. Karena jika kita tidak dapat berkontribusi dalam da’wah sekolah, toh kita sering berhusnudzon pada diri kita sendiri bahwa “pasti ada alumni lain yang turun ke sekolah.

Hukumnya berkontribusi dalam da’wah sekolah bisa dibilang “fardhu kifayah” seperti kita menshalatkan jenazah. Seperti itukah...? Jika sudah ada sebagian yang mengerjakannya, maka yang lain tidak berdosa jika tidak mengerjakannya...! seperti itukah? Dan betapa sudah zalimnya kita terhadap saudara-saudara kita yang lain.
Jika dimisalkan hanya ada dua orang alumni yang turun untuk berkontribusi da’wah sekolah, misalnya seperti Ka Tuti dan Ka Rio, atau Ka Syarif dan Ka Amir, atau Ka Tia dan Ka Antika, atau Ka Mutia dan Ka Fatimah, atau Ka Parlin dan Ka Junaedi? apakah artinya keberadaan mereka sudah merepresentasikan kontribusi-kontribusi alumni yang lainnya? Dua orang itu, mereka membina anak-anak rohis setiap pekannya, mengisi acara mentoring anak-anak rohis, mereka juga mengupayakan untuk menghadiri acara rohis setiap hari jum’at, seperti mengisi acara keputrian ataupun shalat jum’at, mereka juga menemani anak-anak rohis dalam membimbing dan mengarahkan pengurus rohis saat rapat-rapat kecil mereka mempersiapkan acara, mereka juga harus mengalokasikan waktu untuk rapat-rapat “langit” mengenai evaluasi kondisi dan acara rohis dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke tahun. Singkatnya segelintir alumni yang dapat terjun dalam da’wah sekolah, maka segelintir itu pula yang harus memikirkan agenda-agenda rohis, menjalankan agenda rohis, mengevaluasi, dan memikirkan langkah-langkah strategis selanjutnya.

Jika rohis hari ini sedang “sakit”, maka tolong bantu kami melakukan general check-up, seberapapun mahal biayanya! Tolong periksa kesehatan secara menyeluruh bagian organ tubuh rohis agar dapat diketahui dimana saja sumber penyakitnya, jika dimisalkan rohis itu seperti organ tubuh, maka periksa bagian-bagian mana dari tubuh rohis yang tidak berfungsi dengan baik. Sebagai sebuah organisasi, bagian-bagian organ tubuh rohis adalah para stakeholdernya, mulai dari pengurus rohis, anggota rohis, para alumni dan pembina rohisnya. Bagaimanakah keadaan tubuh alumninya? Sakitkah? Bagaimanakah keadaan para pengurus rohisnya? Berjalan sendiri kah? Bagaimana keadaan pembina rohisnya? Benar-benar membina kah? Atau malah membinasakan!, bagaimanakah keadaan rumah tangga rohis??? Ada begitu banyak yang kurang sehat?. Jika diibaratkan rohis seperti pasien yang ingin sembuh, maka ada banyak tes-tes kesehatan yang harus dijalankan, dan sejumlah obat-obatan yang harus diminum agar cepat sembuh. Jauh sebelum kesembuhan itu hadir, maka harus di tanamkan keyakinan bahwa “mencegah lebih baik dari pada mengobati,” agar kelak tidak jatuh kembali di lubang yang sama.

Selepas SMA, alumni menjadi murid baru. Murid baru di kampusnya bagi yang berkesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi, atau murid baru di dunia kerjanya. Ingin rasanya melakukan sebuah penelitian seperti orang-orang kuliahan sana, meneliti kenapa para alumni memiliki keterbatasan waktu, keterbatasan finansial, keterbatasan kehadiran, dan keterbatasan lainnya untuk membantu kami, adik-adiknya di rohis sma negeri 23.

Alumni yang belum bekerja atau belum kuliah, atau masih menganggur, entah kenapa mereka memiliki keseganan tersendiri untuk turun melihat semangat da’wahnya adik2 kita di rohis 23. Setelah bekerja mereka disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga belum ketemu juga waktu yang tepat untuk turun ke 23. Setelah kuliah mereka disibukkan dengan padatnya jadwal kuliah dan organisasi mereka di kampus, atau disibukkan dengan Tugas Akhir, sehingga lagi-lagi memang waktu untuk turun ke rohis 23 harus dikorbankan. Setelah lulus kuliah, mereka bekerja, dan kemudian berkeluarga, maka kesibukan alumni menjadi plus-plus-plus, maka waktu untuk turun ke 23 juga belum ada. Jadi, ya mantau da’wah 23 dari jauh aja deh! Ucap beberapa alumni. Atau beberapa orang alumni yang malu untuk turun berkontribusi di rohis 23, karena mereka merasa kurang percaya diri dan karena rasanya tidak ada yang dapat mereka berikan untuk adik-adik mereka di rohis 23. Hmmmm...! padahal hadirnya mereka ke 23 saja disetiap mereka ada kesempatan adalah suplemen bagi alumni lainnya atau bagi adik-adik di rohis. Entah siapa yang salah, kesibukan alumni yang padatkah, atau adik-adik kita di rohis kah...?

Untuk beberapa orang alumni yang telah menginisiasi atau merintis wadah bagi para alumni agar dapat berkontribusi bagi da’wah sekolah secara lebih teratur dan terarah, sungguh kami para alumni mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi. Adanya wadah FIKRA atau Forum Silaturrahim dan Ukhuwah Rohis Alumni SMAN 23 Jakarta (http://fikra-rohis23.blogspot.com) sungguh sangat bermanfaat, semoga dapat diberdayakan dan dikelola menjadi lebih baik.

Untuk segelintir alumni telah mengorbankan waktu, pikiran, dana, kesehatan, emosi, ruhiyah, dan sebagainya, semoga pengorbanan kalian menjadi amal terbaik (ahsanu ‘amala) yang memperberat timbangan kebaikan kita dihari akhir kelak. Mungkin pengorbanan kita yang sudah “habis-habisan” rasanya tidak dihargai oleh alumni yang lain,,,mungkin belum dirasakan perannya, atau mungkin belum dirasakan effect-nya,,,mungkin loh! Sungguh wajar jika segelintir alumni itu berkeluh kesah pada batas tertentu dan menjadikan dinding fb sebagai tembok ratapan...wajar saja! Namun di kedalaman hati, mereka punya doa-doa yang dalam, doa-doa yang optimis, doa-doa membuat wajah mereka menenggakkan kepala, bahwa suatu hari kelak perjuangan mereka akan menjadikan generasi-genari selanjutnya yang lebih kuat.

Sosok Pemuda Ideal di Mata Allah


Jumat, 29 Oktober 2010, 10:50 WIB
   
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kata-kata pemuda dalam Alquran diistilahkan dengan fatan, seperti firman Allah SWT pada surah al-Anbiya [21] ayat 60 tentang pemuda Ibrahim. "Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim'."

Bentuk jamak dari fatan adalah fityah (pemuda-pemuda), seperti kisah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi pada surah al-Kahfi [18] ayat 13. "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk."

Dalam hadis, pemuda sering diistilahkan dengan kata-kata syaabun. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa di antara tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari ketika tak ada naungan, selain naungan-Nya, adalah syaabun nasya'a fii 'ibaadatillaah (pemuda yang tumbuh berkembang dalam pengabdian kepada Allah SWT).

Eksistensi dan peranan pemuda sangat penting. Dalam Alquran ataupun hadis, banyak diungkapkan karakteristik sosok pemuda ideal yang harus dijadikan teladan oleh pemuda yang bercita-cita sebagai orang atau pemimpin sukses. Pertama, memiliki keberanian (syaja'ah) dalam menyatakan yang hak (benar) itu hak (benar) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Lalu, siap bertanggung jawab serta menanggung risiko ketika mempertahankan keyakinannya.

Contohnya adalah pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kecil, lalu menggantungkan kapaknya di leher berhala yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah SWT) sama sekali tidak ada manfaatnya. Kisah keberaniannya dikisahkan dalam surah al-Anbiya [21]  ayat 56-70.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Artinya, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah [2]: 260). Ketiga, selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi [18] ayat 13-25. Jadi, berkelompok bukan untuk hura-hura atau sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Hal ini seperti kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf [12] ayat 22-24. Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi serta tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Hal itu dicontohkah pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang hingga ia menjadi pemuda yang  bergelar al-amin (tepercaya) dari masyarakatnya.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam Alquran dan hadis diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia masa kini. Wallahu a'lam.
 

Followers

Blogger Tricks

free counters