Minggu, 13 Februari 2011

"SURAT CINTA untuk Sang Pencerah Pengemban DA'WAH"

BismiLLAHIRAHMANNIRRAHIM


ASsalamu'alaikum wr...wb...

Innalhamdalillah....

    Da'wah adalah menyeru kepada manusia dengan hikmah & cara yang baik hingga mereka mengkufurkan thogut & beriman kepada ALLAH & mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam.

    Sesungguhnya jalan da'wah itu adalah jalan para Nabi & Rosul. Jalan yang penuh onak & duri. Jalan yang sepi dari pujian & tatapan mata kekaguman orang lain. Bahkan ramai dengan caci maki, hinaan & siksa yang memedihkan, namun itu semua adalah ujian bagi oarng-orang yang beriman. Karena ALLAH takkan mengakui keimanan tanpa ujian.

    Sesungguhnya  semua ujian itu adalah untuk membedakan orang-orang yang benar & orang-orang yang dusta. Antara orang-orang yang yang beriman dengan orang-orang yang munafik, agar dikenal siapa yang sabar & berjihad , & siapa yang menentang. (Risalah Hasan Albana)

    Tetaplah berkontribusi disaat yang lain hanya mengejar posisi. Jadilah Rahmat bagi sekalian alam seperti SunntuLLOH Dinul Islam. Sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaat untuk orang lain walaupun ia jauh dari kekuasaan. (taujih seorang sahabat)

    Tidak ada gunanya kenikmatan yang mengantarkan ke Neraka. (pesan Sufyan Ats-Tsauri)

     Citra diri manusia bukan pada saat ia berdiri dihadapan banyak orang, atau saat identitas dirinya larut dalam kebanggaan, atau saat keheningan terkalahkan oleh gemerlap pujiaan, atau saat kata-kata menyeru lantang & membuat kagum banyak orang.

    Citra diri manusia adalah saat ia berdiri dihadapan RabbNya, saat ia sedang sendiri di kamar2 kesunyiannya. Secapat apakah ia shalat ??? sefasih apakah tilawah & apa yang ia banggakan saat sendirian ??? 
     Sesungguhnya kita punya 1 kebanggan, yaitu kebanggan IMAN !!! (taujih sorang sahabat)

Ketika kerja keras kita kurang dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang KETULUSAN.

Ketika usaha kita dinilai kurang pentig, maka saat itu kita sedang belajar KEIKHLASAN.

Ketika harus lelah & kecewa, maka saat itu kita sedang belajar KESUNGGUHAN.

Ketika merasa sepi & sendiri, maka saat itu kita sedang belajar KETANGGUHAN.

Ketika harus membayar biaya yang sebenarnya  tidak perlu kita tanggung, maka saat itu kita sedang belajar tentang KEMURAHHATIAN. (taujih seorang sahabat)

Jika kamu merasa lelah & tak berdaya dari usah yang sepertinya sia-sia, ALLOH tahu betapa keras kamu sudah berusaha.

Jika kamu menangis lama & hatimu masih bersedih, sesungguhnya ALLOH sedang menghitung air matamu. 

Jika kamu fikir setahun ini hidupmu sedang menunggu sesuatu & waktu terasa berlalu begitu saja, sesungguhnya ALLOH sedang menunggumu setahun ini

Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal & kau merasa tertekan, sesungguhnya ALLOH dapat menenangkanmu.

Jika kamu telah melihat jejak2 harapan sesungguhnya ALLAH sedang berbisik kepadamu.

Ketika kamu berfikir kamu sudah mencoba segalanya & kau tak tahu hendak berbuat apa lagi, sesungguhnya ALLOH punya jawabannya.(taujih seorang sahabat)

Hidup tidak selalunya indah
Langit tak selalu cerah
Suram malam tak berbintang
Itulah lukisan alam
Begitu aturan TUHAN
        Usah mengharap kesenangan
        Dalam perjuangan penuh pengorbanan
        Usah dendam berpanjangan
        Maafkan kesalahan insan begitu aturan TUHAN
Jadilah rumput yang lemah lembut
Tak luluh dipukul angin ribut
Bagai karang di dasar lautan
Tak terusik dilanda badai
        Dalam diam hitunglah kesyukuranmu
        Dalam tenang awasi kealpaanmu
        Tanamkanlah sifat sabar dalam jiwa itu
        Setitik derita melanda segunung kurniaNYA

Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih sakit dari itu, melainkan ditulis untuknya 1 derajat & dihapus darinya 1 dosa. (H.R Bukhari)

Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik itu berupa rasa letih, sakit, gelisah, gangguan, gundah gulana, maupun duri yang mengenainya, adalah ujian baginya. Dengan ujian itu ALLAH SWT mengampuni dosa-dosanya. (H.R Bukhari)

Anakku, bertakwala kepada ALLAH SWT, maka Dia akan memenuhi hajatmu, memberimu kecukupan, menambah karuniaNYA. Hendaklah ketakwaan menjadi tiang ke 2 matamu & penerang hatimu. (Perkataan Umar bin Abdul Aziz kepada anaknya)

Sedekah rahasia dapat memadamkan murka ALLAH
Silaturahmi dapat memperpanjang umur &
Kebaikan-kebaikan dapat mencegah kematian yang buruk. (taujih seorang sahabat)

    Barang siapa beriman kepada ALLAH SWT, maka niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar & memberinya rezeki secara tak terduga. (Q.S Ath-Thalaq : 2-3)

    Ada banyak hal yang tak pernah kita minta, tetapi ALLAH tiada alfa menyediakannya untuk kita. Seperti udara sejuk untuk bernafas, air segar, hangat mentari & kicau burung yang mendamaikan hati. Jika demikian, atas do'a yang kita panjatkan bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan. (taujih seorang sahabat).



Logo "AL-IKHWANUL AL-MUSLIMUN"
para pencari TUHAN ('itikaf 2010)
10 hari mencari lailatul Qodr


outbond Tafakur Alam

"INDAH, NIKMAT & MANISNYA UKHUWAH ISLAMIYAH"

Di depan para sahabat Rosululloh SAW pernah bersabda; "Sesunguhnya di sekitar arsyi-NYA ada orang-orang yang wajahnya bercahaya & pakaian merekapun bercahaya, mereka bukanlah para Nabi ataupun para syuhada, sehingga para Nabi & Syuhadapun iri terhadap mereka". Kemudian sahabat bertanya; "siapa mereka wahai Rosul ?" Rosulullohpun bersabda "mereka adalah orang-orang yang saling mencintai (berjuang di jalan da'wah) karena ALLAH SWT" (H.R Bukhari)


    Ukhuwah adalah teladan bagi batin yang rindu akan kesetiaan cinta, tempat jiwa berlabuh untuk saling menguatkan, memberi & membagi. didalmnya ada lantunan ketulusan do'a untuk saudaranya.

    Jika hati adalah istana, maka persaudaraan adalah singgasana. Ketulusan adalah mahkota. Suka & duka adalah piala terindah. Dan senyum seorang saudara adalah tahta yang berharga.

    Yang kumaksud dengan ukhuwah ialah bertautnya hati & jiwa dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan paling kuat & mahal. Ukhuwah itu saudara iman, sedangkan perpecahan itu saudara kufur.

    Nilai sebuah ukhuwah tidak akan cair di musim panas,tidak akan beku di musim dingin, tidak akan luruh di musim hujan, tapi akan senantiasa mekar walaupun bukan di musim semi.

Aku mengenalmu melalui satu nama
Aku mamahamimu melalui satu renungan
Aku mengingatmu melalui satu kenangan
Aku menyayangimu melalui satu persaudaraan

Ya ALLAH jagalah saudaraku kala penjagaanku tak sampai padanya.
Muliakanlah ia, kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja.
Karena Engkau punya segala yang tak aku punya.

Rabb ajarkan kami ;
Untuk berpikir sebelum berbicara
Untuk memberi sebelum menuntut
Untuk tersenyum di saat kecewa
Untuk tenang di kala gundah &
Untuk istiqomah di atas kebenaran.

"Ya ALLAH,  sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepadaMu, telah berjumpa dalam mentaatimu,

telah bersatu dalam da'wah padaMu, telah terjalin dalam membela syariat-Mu. Maka teguhkanlah ya ALLAH ikatannya, kekalkanlah kasih

sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhila hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah padam, lapangkanlah dadanya dengan

limpahan iman kepada-Mu & indahnya kepasrahan kepada-Mu, hidupkanlah ia dengan berma'rifah kepada-Mu & matikanlah ia di atas

kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung & sebaik-baik penolong."






khusu sedang menunggu LailatuL Qodr
musafir perjuangan
para pencari TUHAN ('itikaf 2010)
peserta 'itikaf di masjid BI
Lahap di acara buka bersama
Logo "AL-IKHWANUL AL-MUSLIMUN"
Nyasar....
outbond Tafakur Alam ROHIS 23

10 Hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat.


Pertama: memiliki ilmu namun tidak diamalkan.

Kedua: beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.

Keempat: hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.

Kelima: badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.

Keenam: cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.

Ketujuh: waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.

Kedelapan: pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.

Kesembilan: pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.

Kesepuluh: rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.

Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan.
Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan.

Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


NB : Dari Seorang Sahabat

Inilah Jalanku……..

Kubiarkan berbagai komentar itu menghantui hari-hariku, memenuhi relung jiwa nan kian mendesah payah karena rasa psrah atas kehendak yang Maha perkasa.

Mengiring langkah penuh pasti menggapai keingingan dan keyakinan yang kian membumbung.
”Antum tu kebanyakan yang diemban, coba konsen pada kepentingan sendiri…”
Terus dan terus kubiarkan masukan itu masuk ke telinga memenuhi gendang telinga dan diolah oleh tulang-tulang pendengaranku, namun tak sekalipun kuijinkan ia menembus otak melampaui hati untuk menjadi sebuah ungkapan kekecewaan. Sama sekali aku tak perkenankan.
Inilah jalanku…………….
Aku sedemikian bahagia melaluinya, menjalani hari demi hari dengan kelelahan yang kian bertambah. Tapi……………justru dengan kelelahan itulah semangatku masih tetap ada. Dengan jalan ini pula aku memiliki harapan yang banyak demi masa depanku, demi sebuah keyakinan akan pertolongan Allah dan demi sebuah imbalan luar biasa untuk bisa berkumpul dengan para syuhada. Sungguh, ini belum apa-apa dan belum seberapa dibandingkan apa yang telah dilakukan dan diberikan para sahabat kepada dan untuk islam. Apa yang aku pilih untuk aku tunaikan sebagai kewajibanku bukanlah suatu karya besar jika dibandingkan karya-karya para sahabat yang dijamin syurga untuknya tersebut.
Inilah jalanku……………..
Yang kuharap mampu mengantarkan langkah kakiku menuju singgasana keridhoanNYA, menatap wajahNYA tanpa hijab. Supaya diberiNYA aku kesempatan berkumpul dan bersilaturahim bersama sahabat, syuhada para anbiya dan kekasih-kekasihNYA tercinta. Sebagian di antara mereka berucap ”Apa dengan mengorbankan study sebegitunya? Menghabiskan waktu untuk amanah dakwah yang tak kunjung mereda? Sampai kapan akan begitu terus?” kata mereka. Bagaimanapun juga aku menghargai kepedulian mereka kepadaku dengan mengingatkan aku, tapi inilah jalanku……………..jalan dakwah yang kupilih untuk mendampingi perjalanan hidupku yang tidak jauh lebih berharga dibanding hari sesudah kematianku.
Pada dasarnya banyak pilihan bagiku………….
Bila aku mau, aku bisa memilih untuk meninggalkan sama sekali amanahku di luar yang tidak hanya satu untuk hanya menekuni kuliahku. Bisa saja aku menghabiskan waktuku 24 jam di perpustakaan untuk menelan sekian banyak buku menjadi bagian dari kesuksesan studyku, menjadi seorang yang berkutat dengan program-program komputer. Tak sulit bila aku ingin memilih undur diri dari wajihah ini dan itu untuk berkonsentrasi penuh dengan studyku. Sungguh, itu adalah satu pilihan yang ada di depan mataku.
Namun aku meyakini…………….
Bahwa ketika Allah memberikanku nilai D yang artinya tidak lulus maka Allah sedang mengujiku karena aku dianggap mampu menghadapi ujian itu. Pun ketika Allah menjadikan satu dari sekian banyak mata kuliahku bernilai E dan lantaran itu aku menjadi harus memperpanjang masa kuliahku satu tahun lagi, maka aku tancapkan dalam hatiku bahwa itu semata-mata bukan karena amanahku di dalam dakwah, tapi hanya karena IA ingin menguji aku dan dianggap aku mampu. ”Bisa jadi antum disuruh Allah menuntaskan amanah yang belum kelar” begitu ungkap satu orang ikhwah dekatku.
Aku menghargai mereka………..
Yang memilih menghilang dari peredaran dakwah lantaran kesibukannya di dakwah semester lalu telah menyita waktunya sehingga tidak sempat belajar lagi (versi dia). Dengan hanya berkonsentrasi belajar ia berharap bisa lulus segera dan ”NANTILAH” bila sudah lulus saya akan berkontribusi di dakwah. Yah………….itu adalah pilihannya dan aku menghargainya, tapi tidak begitu dengan aku. Karena aku berfikir bisa jadi usiaku tidak menyampaikanku pada kesuksesan cita yang kuinginkan, lantas dengan alasan apa aku menunda kontribusiku demi menunggu waktu aku menggapai cita-cita studyku? Sungguh tak ada alasan bagiku.
”Jangan menjadi lilin? Apa dengan mengorbankan kepentingan sendiri begitu?”
Aku berpikir memang dengan ungkapan itu, jangan-jangan aku memang telah menjadi lilin yang berusaha menerangi orang lain tapi aku leleh perlaham. Tapi, kembali kesadaranku berbicara bahwa ungkapan itu jangan-jangan juga hanya sebagai alasan keMANJAanku saja. Bukankah Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya untuk jihad dan hanya meninggalkan Allah dan RasulNYA untuk keluarhanya? Apakah itu kita bilang sebagai mengorbankan kepentingan sendiri? Apakah Abu Bakar kita sebut sebagai lilin?? Tidak bukan????Sedemikian besar yang para sahabat korbankan dan tak satupun yang ditegur rasul lantaran alasan ”Kamu jangan mengorbankan dirimu” tidak…………sama sekali tidak. Nah…..kita?? sedikit-sedikit kita bilang, ”jangan terlalu berkorban sebegitunya”……………kok bisa gitu lho!!! Aku merasa malu sendiri dengan ungkapan itu. Sebuah upaya mencari pembenaran agar bisa bermanja dan tidak terlalu banyak berkorban. Naudzubillah!!! (Afwan ini pandangan subyektif saya)
Inilah jalan yang kupilih…………
Dengan jalan ini pula semangat di otakku masih bisa disetting untuk terus bersemangat. Dengannya pula kakiku mampu melangkah ke tempat-tempat yang secara logika aku enggan menggapainya lantaran jauh dan susah. Dengan jalan ini pula aku mampu bergaul dan tersenyum kepada banyak orang karena mengharap mereka menjadi bagian dari penghuni syurga. Dengan jalan ini pula aku mampu memberikan banyak penjelasan ketika orang tuaku memaksakan sesuatu. Sungguh…..di jalan ini pula aku banyak belajar menjadi seorang yang tangguh, tsabat serta sabar menghadapi berbagai karakter yang secara nalar aku sudah tak bisa menghadapinya.
Inilah jalanku………….
Dan tak kan kubiarkan siapapun mengecoh langkahku dari jalan ini.
TULISAN INI SAYA DAPATKAN DARI BINCANG_BINCANG SAYA DENGAN SEORANG AKTIVIS. DENGAN MENULISKANNYA SAYA BRHARAP MEMILIKI KEYAKINAN SEBAGAIMANA YANG IA UNGKAPKAN (Seperti yang saya tuliskan; keyakinan tentang jalan yang ia pilih)

oleh : muliaok
source : kammi.or.id dengan beberapa perubahan pada redaksi


MENJOMBLO ADALAH PILIHAN TERHORMAT KARENA ALLAH

Kebanyakan manusia tidak begitu saja menempuh jalan yang disyari'atkan penciptanya. kadang mereka membuat aturan sendiri pada beberapa masalah. Pada masalah menjalin hubungan dengan lawan jenis ini kebanyakan manusia menempuh jalan awal pernikahan dengan pacaran, sesuatu yang tidak disyari'atkan sang pencipta.</span>


Melalui pacaran, pasangan yang berpacaran berharap bisa mengenal kepribadian dan seluk-beluk pasangannya sebelum akhirnya memutuskan untuk menempuh hidup bersama. Walaupun lazim dilakukan manusia saat ini, ada juga yang tidak mengambil jalan pacaran ini, mereka menjadi generasi muda tanpa pacar dan hidup tanpa pacaran, bahasa gaul saat ini mencap mereka dengan gelar jomblo.

Beberapa macam alasan saat orang mengambil pilihan untuk menjadi jomblo :

1. Studi dulu

Sebagian anak muda merasa sadar akan pentingnya ilmu yang harus ia pelajari, sehingga mereka menunda masalah hubungan dengan lawan jenis dengan alasan karena masih sekolah/kuliah. Tidak bisa dipungkiri hubungan dengan lawan jenis berpotensi untuk mengganggu konsentrasi, apalagi jika hanya sekedar pacaran.

2. Kerja dulu

Kebanyakan orang tua juga setuju dengan alasan ini jika anaknya menjomblo. biar kerja dulu, (agak) mapan dulu, biar bisa memberi makan anak orang, setelah itu silahkan pacaran!, demikianlah. Prientasi bekerja tentu saja mencari penghasilan. dengan demikian, yang belum bekerja dan tak ingin merepotkan orang tuanya mengambil alasan ini untuk tidak berpacaran.

3. Tidak laku-laku

Orang yang seperti ini termasuk kategori menjomblo tidak sengaja, biasanya mereka tidak memilih untuk menjomblo. jadi jangan terkejut jika yang seperti ini masih giat mencari lawan jenis untuk dijadikan pacar, kalau ada yang mau, ya… ayo…!.

4. Malu kepada lawan jenis

Ini alasan yang berhubungan dengan kepribadian, pada dasarnya malu adalah sikap terpuji, dalam banyak hal seharusnya kita mempunyai akhlak malu ini. Dalam pergaulan dengan lawan jenis, malu seharusnya lebih dikedepankan dan inilah sifat yang terpuji di mata syariat. Namun, adanya malu pada seseorang bisa jadi bukan karena orang itu sadar syariat, tetapi karena merasa tidak percaya diri, malu yang seperti ini bisa hilang ketika suatu saat kelemahan-kelemahan diri bisa diatasi. Jadi jangan heran jika tiba-tiba si pemalu menjadi pemberani dalam pergaulan lawan jenis setelah kelemahannya teratasi.

5. Karena AllaH Subhanahu Wa Ta’ala

Alhamdulillah inilah alasan yang tepat, mengapa menjomblo? karena pacaran tidak disyariatkan dan sarat maksiat. Memang ketika ingin menikah harus mengenal dan mengetahui calon pasangan hidup, namun pacaran bukanlah cara yang mesti ditempuh. Informasi mengenai calon pasangan hidup bisa diperoleh lewat sumber yang terpercaya;  keluarganya, teman dekat maupun saudaranya tanpa harus mendekati si dia.


Ikhwan...oh...Ikhwan

Ikhwan….oh…. ikhwan

walopun gk begitu rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tapi, tetep aza tebar
senyuman

oh….ikhwan….
Gayanya sih bisa ditebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko ‘n celana goyang murahan
sesekali komat-kamit sambil jalan (maksoed’a zikir)

oh…ikhwan…..
Nyarinya susah-susah gampang
kadang di masjid, mushola, kampus or sekolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan buat biaya walimahan (he…he..he….21x )

oh…ikhwan…
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa nyari’ koin wan ???
ooo ….ternyata jaga pandangan….

ikhwan….ikhwan…..
lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir, acuh tak acuh kayak musuhan
(gubrak …!!!) apaan tuh wan ??
eh..eh.. ternyata dia jatuh,, kagak liat ada selokan !

oh…….ikhwan
apa semuanya begitu wan..???
ada gak sih ikhwan yang jelalatan …???
boleh gak sih “Tepe-Tepe” ke akhwat wan ???
kan dah dibilang murabbi dalam liqo’an !!
Yang bukan ikhwan,,pasti kagak ditunggu malaikat ridwan
yang bukan ikhwan gampang bgt didapatkan
tapi,,kalo ikhwan,,, yang tebal iman,,, dicari butuh tantangan..
karena ikhwan,, nggak doyan perempuan
melainkan lebih milih akhwat sebagai pasangan,,,

Janganlah bersedih...

AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.

Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."

"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.

Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca...

Wallahu a'lam.

 

Followers

Blogger Tricks

free counters