Jumat, 24 Desember 2010

Terbentur, Terbentur, dan TERBENTUK!

Kalimat diatas tidak sengaja ku dengar saat menyaksikan acara televisi di suatu malam. Terbentur, terbentur, dan terbentuk. Pepatah diatas diucapka oleh Tan Malaka, Pahlawan Nasional kita. Memulai tulisan ini di pagi hari, agar dapat meramaikan blog ROHIS  SMAN 23 tercinta.

Siapa yang pernah terbentur? Sakit tidak? terbentur biasanya oleh benda keras ya, seperti dinding, kayu atau logam. Kalau bagian tubuh kita terbentur, biasanya ada sedikit luka lecet atau patahan pada tulang yang terbentur. Seperti orang yang mengalami kecelakaan dijalan, apapun yang terbentur oleh aspal, pasti sakit bagian luar dan dalamnya, dan yang sangat dikhawatirkan adalah benturan pada bagian kepala kita, Na'udzubillah. Terus, kalo misalnya Handphone kita yang terbentur, atau jatuh secara tidak sengaja, atau juga sengaja, apa yang terjadi? hancur, kacanya pecah, LCD-nya rusak, atau apapun, dan harus diservis.

Siapa yang kesehariannya tidak pernah terbentur? boleh dibilang tidak ada ya. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, sekolah, organisasi, dan sebagainya, pasti akan ada benturan. Benturan secara fisik ataupun secara nonfisik. Benturan dapat berupa permasalahan-permasalahan. Bedanya, benturan secara fisik itu sakit yang dirasakan secara langsung, berupa perih, dan kesudahannya mungkin ada bekas lecet, jahitan, atau operasi, sedangkan benturan dalam kehidupan kita sejatinya ingin membentuk diri kita menjadi lebih baik. Persamaannya, benturan-benturan itu sungguh menyakitkan, membutuhkan waktu kita untuk beristirahat agar cepat pulih, dan benturan itu mengganggu aktivitas kita, tapi sabar ya.

Benturan, atau permasalahan-permasalahan, yang membuat kita resah, khawatir, cemas, dan sebagainya, sejatinya adalah membentuk diri menjadi lebih baik. Bak sebuah gelas cantik yang terbuat dari tanah liat yang harus mengalami beberapa kali benturan atau pembentukkan, atau sebuah pedang yang harus beberapa kali pukulan baru dapat menghasilkan pedang yang tajam dan mengkilat, atau bangunan puluhan dan ratusan lantai yang harus ditanam dalam-dalam dengan beberapa kali pukulan agar menghasilkan bangunan yang tahan terhadap gempa dan bencana lainnya.

Seharusnya benturan itu membentuk diri, bukan malah melemahkan. Benturan-benturan itu mengajak kita untuk diam sejenak berkontemplasi, merenung tentang apa yang telah kita lakukan, adakah yang kurang tepat atau perlu ditingkatkan. Benturan mengajak kita berpikir sejenak mencari alternatif-alternatif cara untuk menyelesaikan masalah yang baru, dan agar kita lebih cerdas dari masalah kita.
wallahua'lam bisshawab.

SEPORSI CINTA?

Oleh : Laela Awalia 
  
Suatu malam, seorang teman mengirim pesan pendek pada saya yang sedang asyik bercengkrama dengan keyboard dan layar komputer. Dalam pesan pendeknya, ia menulis kata-kata yang tiba-tiba mampu menghentikan aktivitas saya dalam sejenak. Ia tak bertanya tentang PR-PR organisasi yang selama ini jadi menu sehari-hari kami. Ia pun tak bertanya tentang kabar kuliah atau kegiatan menulis saya. Ia hanya mengirim saya kata-kata ini.

"Cinta itu begitu luar biasa ya, mampu membuat kita tergugu dengan berjuta harap juga rindu, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kita cintai. Hingga wujudnya sudah mencipta resah, cemas, juga doa-doa."

Lama saya tak membalas pesan pendeknya. Bukan karena malas, tapi saya harus mencermati setiap kata yang ia tuliskan di layar kecil itu. Adakah ia serius atau hanya ingin ‘perang' kata-kata dengan saya. Dan setelah saya berpikir agak lama, saya membalasnya. Hingga saya harus menghentikan aktivitas saya sejenak karena setelah itu kami terus saling berbalas pesan pendek.

"Tapi, cinta pun menyediakan air mata... Bagaimanapun, ketika kita terjebak dalam sebuah rasa yang awalnya mungkin tak kita sadari, harusnya kita bisa jadi lebih dewasa. Bagaimanapun -sekali lagi- cinta akan tetap indah jika ia disembunyikan hingga hanya kita dan Allah saja yang tahu."

"Cinta itu ibarat warna, jadi ketika kita merasakan ada getar yang tak terdefinisi, itulah cinta. Hanya saja, kita tak tahu cinta dengan warna apa dan seberapa kuat pendarnya menerangi hati kita. Ada orang yang menyadari warna cinta dan kuatnya pendar itu langsung ketika dekat dengan orang yang dicintai.ada juga yang baru sadar ketika orang tercinta telah pergi."

"Sesungguhnya aku tak menyadari apa yang aku rasakan. Mencintai bagiku adalah suatu hal yang membuatku bahagia, tapi dicintai terkadang bisa menyisakan satu rasa yang tak terdefinisi dan mungkin saja membuat kita terluka. Hingga pada akhirnya kita lah yang harus berkorban agar tak melihat pendar kekecewaan pada wajahnya. Karena itu, mengapa harus sedih jika hanya bisa mencintai dari jauh? Balasan cinta tak harus dari orang yang kita cintai kan!"

"Benarkah balasan cinta itu akan kita peroleh dari orang yang tidak kita cintai? Tidakkah itu justru akan semakin menyakitkan kita atau setidaknya bukan cinta yang kita berikan pada orang lain itu, melainkan hanya rasa sayang atau kasihan..."

"Ya, itulah keajaiban sebuah cinta! Kita mungkin tak menyadari bahwa masih ada orang yang mencintai kita dengan setulus hati. Memang, mengejar apa yang kita cintai akan membuahkan satu rasa paling indah jika itu tercapai. Tapi, bukankah lebih indah memberi cinta pada orang yang mencintai kita setulus hati? Yah, pada akhirnya kita harus memilih. Tapi, yakinku hanya satu, bahwa cinta tetap indah pada akhirnya..."

"Ya, cinta akan tetap indah pada akhirnya. Karena cinta penuh dengan sensasi yang tak habis untuk dinikmati dan dikenang. Bukankah cinta butuh proses? Proses itu lah seni keindahannya... mungkin memang tepat satu kalimat ‘Surga hanya diperuntukkan bagi para pencinta.'"

Pesan-pesan pendek itu menjadi smacam renungan untuk saya, dan mudah-mudahan bagi kita semua. Bahwa cinta seindah apapun akan bisa menciptakan luka jika terlalu mengejarnya dengan porsi yang tak seharusnya. Tapi di sisi lain, cinta bagaimanapun rupanya bisa menciptakan kebahagiaan jika diporsikan sesuai kadarnya.

Cinta memang sepatutnyalah bisa membuat kita jadi lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa perlu label khusus bagi kebanyakan pecinta muda yang belum sepenuhnya mengerti makna sesungguhnya. Sepatutnyalah cinta diporsikan sesuai dengan kebutuhan dan hak sesorang atau Dzat yang memberi kita cinta. Jikalah ada seseorang yang memberi kita cinta, mungkinkah cintanya akan melebihi cinta yang telah diberikan Dzat pencipta cinta itu? Maka, bertanyalah pada diri kita sekarang. Seberapa besar porsi cinta yang telah kita berikan pada Pencipta Cinta?

dudung.net

Jumat, 17 Desember 2010

Maybe Not Now, But Later!



Maybe Not Now, But Later! Mungkin Tidak Sekarang, Tapi Boleh Jadi Esok...!

Bismillahirrahmanirrahim...
Segala puji bagi Allah yang senantiasa merindukan taubat hamba-hamba-Nya.
Saudaraku, Kakak2 Alumni Rohis SMAN 23, Para pengurus Rohis 23, dan adik2 Rohis kelas X yang dicintai Allah.

Saat kita disuguhkan atau ditawarkan segelas air putih oleh saudara kita, mungkin saat itu kita dapat menolaknya, walaupun mungkin juga kita menerimanya, tergantung kondisi tenggorokan kita saat itu. Kita menolaknya boleh jadi karena kita juga memiliki sebotol air minum dalam tas, atau kita sedang tidak haus, atau kita segan karena mungkin saudara kita itu lebih membutuhkannya, namun ia itsar kepada kita, atau mungkin juga segelas air putih tidak cukup menarik perhatian kita untuk meneguknya. Namun boleh jadi saudaraku, kita akan membutuhkannya esok kelak. Esok saat kita tidak mendapatkan air putih untuk diminum karena air mati atau gas mati, tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli segelas air putih, atau tidak ada penjual air putih di sekeliling kita, sehingga saat itu tenggorokan kita begitu kehausan, saat itulah kita akan menggenggam kuat sang gelas agar airnya tidak tumpah setetespun.

Saat Rasulullah SAW dilemparkan kotoran berkali-kali oleh seseorang yang sangat membencinya setiap Ia melewati sebuah blok jalan dekat rumahnya, sehingga membuat geram putri dan para sahabat-sahabatnya, namun di sebuah kesempatan saat orang yang selalu melempari kotoran pada Rasulullah itu jatuh sakit, Rasulullah adalah orang pertama kali menjenguknya. Anehnya, justru Rasulullah bertanya kemana orang yang "biasa" melempari kotoran kepadaku? Subhanallah! Dan orang itupun kemudian masuk islam. Dalam sebuah kesempatan, seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, kenapa Rasulullah tidak membalas kejahatan orang tersebut, bahkan malah menjenguknya, Rasulullah dengan bijaksana menjawab, "mungkin saat ini ia belum dapat menerima da'wah kita, namun boleh jadi esok...! atau mungkin keturunan-keturunannya kelak!" Masya Allah! siapa nama sahabat itu? silahkan temukan dalam buku shirah nabawiyah ya.

Tulisan ini sebenarnya untuk menyemangati diri dan menyemangati saudara-saudaraku yang terus berjuang dan bertahan dalam da'wah sekolah di almamater kita tercinta. Mungkin kita belum melihat semangat pembinaan, semangat mengikuti kegiatan-kegiatan rohis, semangat mendengarkan nasihat kebenaran dan kesabaran, semangat berda'wah, dan semangat memperjuangkan keindahan islam. Mungkin belum sekarang saudaraku! Mungkin mereka belum membutuhkan kita. Bukankah da'wah itu seperti menyuguhkan segelas air putih?  Siapakah orang yang lebih sabar antara yang menyuguhkan segelas air putih dengan orang yang sabar menolaknya? Ketika orang-orang yang menolak da'wah kita atau para penyeru-penyeru kejahiliyahan tetap sabar dan lebih berdedikasi dalam menghancurkan generasi-generasi muda islam, kenapa kita mudah lemah semangat?
Wallahua'lam bisshawab...

RENCANA TUHAN


Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang meyulam sehelai kain.
Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya,
apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang meyulam sesuatu di atas
sehelai kain.
Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah
benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku,
lanjutkanlah permainanmu,
sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan
kupanggil dan
kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari
atas."

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu sembrawut
menurut pandanganku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari ke
sini, dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,
dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah
sekali.
Aku hampir tak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah
benang-benang ruwet.

Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang ruwet dan kacau,
tetapi engkau tidak menyadari bahwa dia atas kain ini sudah ada gambar yang
direncanakan, sebuah pola,
ibu hanya mengikutinya." "Sekarang, dengan melihatnya dari atas, kamu dapat
melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada TUHAN,
"apa yang Engkau lakukan?"
Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, "Tetapi
nampaknya hidup ini ruwet,
benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna
yang cerah?
Kemudian TUHAN menjawab, "kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga
menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini.
Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di
pangkuan-Ku,
dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku!"

SERING KALI KITA TIDAK MENGERTI APA YANG TUHAN INGINKAN DALAM HIDUP KITA ..
TAPI PERCAYALAH BAHWA SEMUA YANG TELAH DIA IJINKAN TERJADI DALAM HIDUP KITA
ADALAH YANG TERBAIK.

Salam Berkah !

(Satria Hadi Lubis)

Kamis, 16 Desember 2010

Untukmu Ibu


Dalam setiap irama tubuhmu kau selalu menyapa
Dalam kepenatan yang tak pernah terbisikkan kau selalu mendekap
Dalam kerinduan yang sangat kau tak pernah ingin lepas dariku


Usiaku kini telah berubah
Aku bukan lagi balita kecil
Kaulah yang telah membentuk jiwa mentah ini
Kaulah yang telah mengelola emosi labil ini
menjadi lokomotif kemajuan
Kaulah yang selalu memberiku keberuntungan
dengan nasihatmu kala malam telah larut
dan gerbang mimpi siap menghampiriku


Kala yang lain terlelap
Kutahu kau tak pernah terlena
Pikiran, hati, jiwa, dan emosiku selalu bekerja demi masa depanku
Kau selalu berpacu dengan waktu
Karena kau yakin, tanpa itu bisa jadi
aku terlindas oleh jaman yang semakin keras


Kaulah pengantar luasnya pengetahuanku
Kala wadah kosa kataku hanya bagai tetesan air
Kaulah yang memenuhinya hingga menjadi sebuah lautan
Kaulah bintang berkilauku
Yang tak akan pernah terlupakan
oleh rangkaian huruf cahaya sejarah peradaban manusia

Andai aku bisa, bunda
Kan kubalas segenap cinta dan kasihmu
Andai aku mampu, bunda
Kan kupersembahkan seterang kilauanmu,
sehangat dekapanmu, setulus kasihmu,
dan sebijak nasihatmu


Kutahu, bunda
Tanganmu tak pernah lepas berharap untukku
dalam setiap do’a yang kau panjatkan
Kutahu bunda
Senyummu selalu menyapa dalam setiap kata cinta
yang keluar dari lisanmu
Kutahu bunda
Mata hatimu selalu terjaga dalam setiap derapku


Ya Allah
Kutengadahkan tanganku berharap
kau membahagiakannya sepertiku kini
Ya Rabbi
Kumemohon berilah bunda mimpi yang selalu indah
Ya Rabbul Izzati
Kuberharap padaMu anugerahkan bunda kecupan hangat
Seperti yang selalu ia berikan padaku saat aku terbangun di pagi hari
Ya Illahi
Sejahterakanlah bunda


Bunda, pelangi dan matahariku
Hari ini kuhaturkan dengan tulus padamu

by: http://radensomad.com/puisi-ibu.html

Rahasia Ayyamul Bidh

Pernah denger puasa pertengahan bulan?
Yap! Puasa pertengahan bulan itu sering disebut dengan AYYAMUL BIDH.
Rasulullah selalu melaksanakan Ayamul Bidh setiap 3 hari pada tengah bulan, yaitu setiap tanggal 13, 14, dan 15 (pada bulan Hijriyah). Dalam sebuah riwayat disebutkan,
Ibnu Abbas ra. berkata : "Adalah Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan berpuasa pada hari putih (tanggal 13, 14, dan 15) baik dalam bepergian atau di rumah." (HR. Thabrani)

Dalam riwayat lain disebutkan pula,
Dari Abu Dzar ra. berkata, Rasulullah bersabda : "Jika kamu berpuasa tiga hari dari satu bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15." (HR. Nasa', Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Apakah rahasia dari Ayamul Bidh ini sehingga Rasulullah tak pernah luput dari mengerjakannya?
Dan mengapa pula dianjurkan pada tanggal-tanggal itu?

Pernah dengar Dracula? Vampire? Atau kuntilanak?
Ya, semua hantu itu dikabarkan sering berkeliaran di malam hari khususnya ketika bulan purnama. Lho??? Apa hubungannya ayamul bidh dengan hantu dan bulan purnama?
Ya, kalo’ dengan hantunya sih nggak terlalu berhubungan, tapi, yaumul bidh berhubungan dengan bulan purnamanya.
Jadi, hubungannya apa?



Begini…, sudah kita ketahui bahwa pertengahan bulan Hijriah adalah waktu munculnya bulan purnama. Nah, saat bulan purnama bersinar (kayak lagu aja, hhihihi…), terjadilah yang namanya pasang air laut. Letak bulan yang dekat dengan bumi menyebabkan gaya grafitasi bulan mempengaruhi ketinggian air laut dimuka bumi, dan terjadilah pasang air laut.

Terus??
Ternyata, grafitasi dari bulan ini tak hanya mempengaruhi kondisi bumi (benda mati) tetapi juga benda hidup. Terutama manusia.
Lho? Kok bisa?
Seorang peneliti berkebangsaan Amerika pernah mengadakan penelitian mengenai kondisi kejiwaan manusia ketika terjadi bulan purnama. Penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung lebih labil, emosional, dan tidak terkendali. Semua perasaan menjadi mudah membuncah dari dalam diri. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah senang, mudah sedih, pokoknya semua sifat yang ada pada dirinya menjadi lebih mudah ter‘upload’ dari dirinya. Mungkin inilah salah satu penyebab banyak mitos dan film yang mengaitkan antara monster atau hantu dengan bulan purnama.

Coba kita perhatikan dua fenomena ini.
Puasa, pada dasarnya menuntun kita agar menundukkan nafsu kita. Ketika kita berpuasa, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi kita dan menjaga syahwat kita.
Ketika ilmu sains modern mengungkapkan adanya kelabilan emosi manusia saat bulan purnama, Islam telah menganjurkan untuk melaksanakan puasa tepat saat munculnya sang bulan purnama. Islam telah memberi jalan pada umatnya agar tidak terkena pengaruh kelabilan emosi yang terjadi pada tanggal tersebut. Rasulullah menganjurkan kita berpuasa, agar hati kita selalu terjaga dari amarah, nafsu, dan segala sifat buruk lain yang cendrung lebih meluap pada saat itu dibanding saat-saat lainnya.
Subhanallah...

Inilah hikmah di balik sunnah.
Tak heran jika Rasul tak pernah meninggalkan ayamul bidh. Tak heran pula jika Rasulullah menganjurkan kita untuk berpuasa 3 hari setiap bulan, terutama pada pertengahan bulan. Ternyata anjuran tersebut memiliki rahasia yang tak disangka-sangka. Ternyata memang segala amalan yang dianjurkan dalam Islam ini selalu memiliki hikmah yang tersembunyi yang luar biasa dahsyatnya. Lalu, masihkan ragu dan malas-malasan melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah?

Sabtu, 11 Desember 2010

Puasa di Bulan Muharram

Puasa Aasyuura Tanggal 9 & 10 Muharram dan Keutamaannya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[1].


Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2].


Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
- Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Aasyuura’shallallahu ‘alaihi wa sallamradhiyallahu ‘anhum untuk melakukannya[3], dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaannya beliau bersabda, (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah melakukannya dan memerintahkan para sahabat

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu“[4].

- Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda,


فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Kalau aku masih hidup tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).” [5]

- Adapun hadits,
 

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً

Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“[6], maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram[7].

- Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya[8].

- Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa álaihis salam dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi  Musa ‘alaihis salam pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 

فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

Kita lebih berhak (untuk mengikuti) Nabi Musa ‘alaihis salam daripada mereka“[9]. 

Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram[10]


- Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang lima waktu[11].
***

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthoni, M.A.
Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 05 Desember 2010

ROHIS SMAN 23 2009-2010

Jumat, 03 Desember 2010

Hijrah Yuk!



Hijrah koq ngajak2...? ya iyalah, kan biar rame, biar ada temen, biar ada ngingetin...! btw, apaan sih hijrah? apakah hijrah cuma ada pada zaman nabi aja? apakah saya yang biasa2 aja bisa ber-hijrah? yang pasti jawabannya adalah hijrah terjadi juga pada zaman kita dan siapapun kita dapat berhijrah!. Menjadi anak rohis sma negeri 23 pun salah satu bentuk hijrah.

Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H ada baiknya kita memaknai bersama makna perayaan Tahun Baru Islam tersebut. Oya, Tahun Baru Hijriyah diawali pas Rasulullah dan para Sahabatnya berhijrah ke Madinah.

Sepengetahuan kita semua, berapa kali sih terjadi peristiwa Hijrah itu pada Masa Kenabian Muhammad SAW? satu, dua atau tiga? Benar, Hijrah pada masa itu terjadi sebanyak tiga kali, yang pertama hijrah ke Habasyah (Rasulullah tidak ikut serta, hanya para Sahabat), yang kedua ke Thaif (Rasulullah dan asistennya saja, tanpa para sahabat) dan terakhir ke Madinah (Rasulullah dan para Sahabat). Kalau penasaran jawabannya, buka aja buku Shirah Nabawiyah ya, karangan Ramdhan Al-buthy, trus kalo belum punya, pinjam aja sama kakak2 alumninya.

Hijrah itu sama seperti moving atau bergerak atau berpindah. Shalawat dan Salam bagi Nabi kita, sosok yang teramat tangguh dalam berhijrah dan sangat istiqomah dengan hijrahnya. Sejujurnya, rasanya kita harus semakin bangga menjadi seorang muslim dan menampilkan keislaman kita. hal ini dapat kita lihat pada dasar dalam penanggalan hijriah atau Tahun Baru Islam, berbeda dengan sistem penanggalan Masehi yang kita pakai saat ini, dasarnya adalah kelahiran kristus atau Isa Al-Masih (Masehi), hanya saja semoga penanggalan hijriah dapat menjadi penanggalan dunia menggantikan penanggalan Masehi,,,amiin.

Pada momen yang sangat berharga ini, mari bersama kita berintrospeksi diri dan menjadikan momen hijrah ini sebagai langkah awal kita untuk berubah. Tahapan dalam hijrah itu ada 3, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu Iman, Hijrah dan Jihad. Kenapa kita harus beriman dulu sebelum berhijrah? apakah kita sudah beriman kepada Allah? atau kita baru berislam? semoga Allah beri kita kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan kita beriman kepada-Nya, amiin. Setelah kita beriman, baru kita dapat berhijrah, hijrah atau metamorfosis (seperti rencana tema Tafakur Alam tahun 2010 ini), minadzdzulumati ilannuur, hijrah dari kondisi yang jahil kepada cahaya islam, hijrah dari keraguan kepada keyakinan, hijrah dari keputusasaan kepada semangat, hijrah dari sekedar berkata menjadi beramal atau action!, dan sebagainya. Setelah berhijrah Allah anjurkan kita juga untuk bersungguh-sungguh atau berjihad dengan hijrah kita tersebut. Hijrah tanpa kesungguhan atau keistiqomahan seperti orang main skipping, loncat ke atas dan balik ke titik semula, atau balik pada keadaan semula. Selayaknya hijrah seperti orang hiking, atau mendaki...tapi jangan mendaki gunung merapi atau bromo ya, karena statusnya masih siaga atau awas. Hijrah seperti climber, menjadikan pribadi kita untuk terus dan terus memperbaiki diri tanpa henti. Tidak peduli seberapa gagal kita berusaha untuk memperbaiki diri dihadapan Allah, namun saat kita terus bertahan dalam kesungguhan kita, saat itulah posisi hati kita kepada Allah senantiasa dalam keadaan terbaik. Wallahua'lam bisshawab.

 

Followers

Blogger Tricks

free counters