Senin, 27 September 2010

Dalam Dekapan Ukhuwah


Salim A. Fillah

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji.. Dalam dekapan ukhuwah.

Prolog: Dua Telaga

Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

Di buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Sang Nabi ini yang akan menjadi telisik pembelajaran kita. Inilah pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran.

Tak ayal, kita harus memulainya dari satu kata. Iman. Karena ada tertulis, yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terrendah dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

Dalam dekapan ukhuwah kita mendaki menuju puncak segala hubungan, yakni taqwa. Sebab, firmanNya tentang penciptaan insan yang berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan. Dan ada tertulis, para kekasih di akhirat kelak akan menjadi seteru satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.

***

Ah, tapi jika semua tadi masih terasa sulit dan melangit, mari kita sederhanakan Dalam Dekapan Ukhuwah ini dengan sabda Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang menghimbau kita untuk bercermin. Seperti Narcissus. Tapi bukan di telaga. Dan pemaknaannya pun jadi berbeda.
“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Itu saja.
Selamat datang dalam dekapan ukhuwah. Aku mencintai kalian karena Allah.

Minggu, 26 September 2010

Mohon masukannya tentang peruban logo rohis

saudara-saudaraku semuanya,,,
mohon pendapatnya tentang perubahan logo rohis,
silahkan dilihat di profil rohis sman 23 (kanan/side bar)
pilih warna abu2 krn sbg warna dasar aja...
tar bisa diganti warna lain
gimana menurut teman2 semuanya?
dasar perubahan logo, karena pernah melihat proposal thn 2004 yg beda logo antara kop surat rohis dengan stempelnya,,,jg ingin adanya pemaknaan lambang rohis dalam AD/ART Rohis selanjutnya...!
logo rohis sebelumnya sudah2 samar tentang makna lambangnya...
tulisan Allahuakbarnya, dpt diganti buku, qur'an atau logo osis sman 23 yg bundar...
6 lapisan melambangkan rukun iman, dengan dasar masjid sebagai tempat shalat dan ibadah lainnya...(penjelasan belum lengkap! maaf ya!)
mohon masukkannya, dan sesederhana apapun masukan teman2 semuanya, pastinya sangat berharga
terima kasih...

Sabtu, 25 September 2010

"Kenalilah DENGAN SIAPA KAMU BERTEMAN....!!!!"

  Jika jiwamu pada suatu hari membisikanmu untuk berteman dengan orang-orang karena kau membutuhkan mereka.
Maka bertemanlah dengan orang yang:
  1. Tidak akan mendatangkan kejahatan bagimu
  2. Tidak berseberangan jalan denganmu
  3. Tidak pula merendahkanmu saat menghadapi kenyataan
  4. Apabila engkau berteman dengannya ia akan membuatmu menawan
  5. Apabila engkau bergegas mendekatinya, ia akan melindungimu
  6. Apabila cobaan menimpamu, ia meringankan bebanmu
  7. Apabila engkau berkata, ia membenarkan kata-katamu
  8. Apabila engkau menggandengnya, ia menggandengmu lebih erat
  9. Apabila engkau mengulurkan tanganmu untuk memberi, ia pun tangannya
  10. Apabila ia melihat kebaikan darimu, ia memandangnya
  11. Apabila tampak darimu suatu kekurangan, ia menutupinya

Wishing You All The Best!!!

Ketika kerjamu tidak dihargai,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN...

Ketika usahamu dinilai tidak penting,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN...

Ketika hatimu terluka sangat dalam,
maka saat itu kau sedang belajar tentang MEMAAFKAN...

Ketika kau harus lelah dan kecewa,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN...

Ketika kau merasa sepi dan sendiri,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN...

Ketika kau melewati ujian hidup ini dengan baik,
maka saat itu kau sedang menuju KEMATANGAN dalam hidup...

Wishing You All The Best!!!

Kamis, 23 September 2010

Apakah Pacaran itu Haram ?


Manusia diciptakan oleh Allah ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firmanNya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran : 14).
Berkata Imam Qurthubi : “Allah ta’ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat syetan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari : 5696, Muslim : 2740, Tirmidzi : 2780, Ibnu Majah : 3998).
Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Tafsir Qurthubi 2/20). Rasulullah SAW pun, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita. Dari Annas bin Malik RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita.” (HR. Ahmad 3/285, Nasa’i 7/61, Baihaqi 7/78 dan Abu Ya’la 6/199 dengan sanad hasan. Lihat Al-Misykah : 5261).
Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim 10/56, Nasa’i 6/69, Ibnu Majah 1/571, Ahmad 2/168, Baihaqi 7/80).
Allah berfirman : “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahman : 70).
Namun, Islam sebagai agama paripurna para Rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari’at.
***
Etika Pergaulan Lawan Jenis Dalam Islam
1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firmanNya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur : 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur : 31).
2. Menutup aurat
Allah berfirman : “Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS. An-Nur : 31).
Juga firmanNya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59).
Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis, sebagaimana sebuah hadits : Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita.” (HR. Muslim 1/641, Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661).
3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita
Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firmanNya : “Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al-Ahzab : 53).
4. Tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas RA berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari 9/330, Muslim 1341).
Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya.” (HR. Ahmad 1/18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad Shahih, lihat Takhrij Misykah 3188).
5. Tidak mendayukan ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah : “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab : 32).
Berkata Imam Ibnu Katsir : “Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah saw serta para wanita mu’minah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/530).
6. Tidak menyentuh lawan jenis
Dari Ma’qil bin Yasar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam musnadnya 1283 dengan sanad hasan, lihat Ash-Shohihah 1/447/226).
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah : “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Ash-Shohihah 1/448).
Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membai’at dan lain-lain. Dari ‘Aisyah berkata : “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat.” (HR. Bukhari 4891).
Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya.” (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud 2152).
Padahal Allah ta’ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal. 94-98) sebagaimana firmanNya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ : 32).
***
Hukum Pacaran
Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :
1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.
4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.
Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?
***
Fatwa Ulama’ Seputar Pacaran
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah (pacaran)? Jawab beliau : Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya haram, karena tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik lewat ucapan, memandang, ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda : “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. (Fatwa Islamiyah kumpulan Muhammad Al-Musnid 3/80).
Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya : “Kalau ada seorang laki-laki yang berkorespondensi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah perbuatan itu haram?” Jawab beliau : Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan syahwat di antara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai perzinaan yang akan bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan keji, maka saya menasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya.
Syaikh Jibrin juga ditanya : “Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelepon gadis yang belum menikah?” Jawab beliau : Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahramnya) dengan pembicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat telepon maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit.” (QS. Al-Ahzab : 32). Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari fitnah, akan tetapi hanya sekedar keperluan. (Fatawa Islamiyah 3/97).
***
Syubhat dan Jawabannya
Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas dari pada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba, diantara syubhat itu adalah :
Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.
Jawab : Istilah “Pacaran Islami” itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. tapi tetap tidak akan bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.
Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah nikah.
Jawab : Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram.
Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al-Munawi 3/454). Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda : “Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli.” (Hadits lemah baik marfu’ maupun mauquf, riwayat Bukhari dalam Tarikh Kabir 2/1/157, Abu Dawud 5130, Ahmad 5/194, Lihat Silsilah Dloifah 4/348/1868).
Ma’raji : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf / Majalah Al-Furqon Edisi 8 Th.II/Rabi’ul Awwal 1424.

Tips Belajar Yang Baik

Pertama, niat dan berdoa. Kalau tidak ada niat, belajar sekeras apapun tidak ada gunanya. Berdoalah kepada Tuhan agar proses belajar dapat dimudahkan oleh-Nya.

Kedua, membaca. Anda harus betah dalam membaca karena dengan membaca, wawasan kita bertambah.

Ketiga, lengkapi kegiatan membaca dengan mendengar dan memperhatikan. Ini juga salah satu cara belajar yang enak, karena sudah ada tutor / orang yang memberi penjelasan.

Keempat, rutin. Jangan bosan mengulang apa yang baru saja dipelajari, sehingga diharapkan hal yang dipelajari lebih awet di otak.

Kelima, jangan malu bertanya. Pepatah mengatakan “malu bertanya, sesat di jalan”.

Keenam, berani mencoba. Cobalah praktekkan apa yang baru Anda pelajari bila memungkinkan.

Ketujuh, sabar. Bersabarlah dalam mempelajari sesuatu, karena tidak ada yang bersifat instan. Tidak mungkin orang melakukan copy paste isi otak, atau copy paste isi buku ke dalam otak kita.

Kedelapan, berbagi. Setelah Anda berhasil memahami apa yang Anda pelajari, ilmu tersebut jangan disimpan saja, namun berbagilah ilmu dengna sesama. Bila Anda punya blog, tulis hal tersebut, jangan sungkan dan jangan takut “dicela” orang. Karena memang tidak sedikit orang yang sudah merasa bisa dan lebih baik daripada kita, kemudian menyindir, bahkan mencela kita.

Terakhir, bersyukur. Bersyukurlah atas apa yang baru saja Anda dapatkan.

OK. Semoga tips ini bermanfaat

Selasa, 21 September 2010

Marawis ROHIS SMAN 23

SEGENGGAM GARAM

Teman, aku punya dua buah kisah yang mungkin menarik untukmu...

Ini kisah yang pertama

Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda . langkahnya gontai, air mukanya ruwet. Ia seperti sedang dirundung masalah. Anak muda itu menumpahkan semua maslahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya utnuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.
Minum dan katakan bagaimana rasanya!” kata pak tua itu singkat.
”Puih...!” Sang tamu meludah ke samping. ”Asyin sekali! Tenggorokanku seperti tercekik,’ kata si pemuda itu lagi. Pak tua itu tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ketepian telaga di dalam hutan tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak tua itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu diaduknya telaga itu.
”Ambil air dari telaga ini dan minumlah!” Setelah si pemuda selesai meneguk air itu pak tua bertanya, ”Bagaimana rasanya?” Segar , jawab pemuda itu. ”Apakah kamu merasakam garam di dalam air tiu?” ”Tidak”.

Pak tua itu tersenyum bijak. Ia menepuk punggung si pemuda dengan lembut. Dibimbingnya anak muda itu duduk bersimpuh di sisi telaga.

”Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layak segenggam garam. Tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama,” tutur pak tua.
”Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, Kepahitan itu akan terasa tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu menatap si pemuda lembut. ”Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.” Setelah itu keduanya beranjak pulang.

Hari ini mereka sama sam belajar. Pak tua bijak itu kembali menyimpan, ”Segenggam garam” untuk anak muda lain yang mungkin datang membawa keresahan jiwa.

Teman, ini yang kedua.

Kisah tentang dua buah bibit.

Ada dua buah bibit tanaman terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit pertama berkata, ”Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menghujamkan akarku dalam dalam di tanah ini. Aku ingin menjulangkan tunas-tunasku ke angkasa. Aku ingin tunasku menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembuatan embun pagi di pucuk pucuk daunku.” Dan, bibit itu tumbuh.

Bibit yang kedua, bergumam, ”Aku takut jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap?” Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput mencoba memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”
Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah dan menemukan bibit kedua tadi. Ayam itu mencaploknya segera.

(Irfan Toni Helambang dalam Buku Kekuatan Cinta)

PENDAKI

Seorang pendaki gunung sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel dan beragam carabiner (pengait). Tak lupa tali-temali tersusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat. Jadi, persiapannya harus lebih lengkap.

Kini, dihadapan pendaki itu menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat. Tertutup salju yang putih. Awan yang berarak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi di sana.
Mulailah pendaki itu melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang disandangnya menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali-temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam. Ia harus mendaki dengan tali-temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh datang dari atas. Astaga, ada badai salju datang tanpa diundang!

Longsoran salju meluncur deras. Menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas ke arah dinding.
Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah, tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya hilang. Hanya tersisa sebilah pisau di pinggangnya. Sang pendaki, itu tergantung terbalik di dinding yang terjal itu.

Pandangannya kabur, semua tampak memutih. Ia tak tahu di mana berada. Sang pendaki cemas, Ia berkomat-kamit memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana. Mulutnya terus bergumaman, berharap ada pertolongan yang datang.

Suasana hening setelah badai. Ditengah kepanikan itu, terdengar suara hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. ”potong tali itu! potong tali itu!” Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan?” Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding itu begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaiman aku bisa tahu ?
Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia ragu untuk mengambil keputusan. Lama, Ia tak mengambil keputusan apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan tubuh tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu beku. Tampaknya ia meninggal karena kedinginan. Sementara, batas tubuh itu dengan tanah berjarak 1 meter saja!

Teman, kita mungkin akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu karena tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan selamat dengan membiarkan dirinya jatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan.

Begitulah, kadang kita berpikir mengapa Allah tampak tak melindungi hamba-NYA? Kita mungkin sering merasa mengapa ada banyak sekali beban, masalah, hambatan, yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja jalan lurus tanpa perlu menanjak agar kita terbebas dari semua halangan itu ?

Namun, Teman, cobaan yang diberikan Allah buat kita adalah latihan. Hanya ujian. Kita adalah layaknya besi-besi yang ditempa. Kita adalah seperti pisau – pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di semua ujian dan latihan itu tersimpan petunjuk. Ada tersembunyi tanda-tanda, asal kita percaya. YA, ASAL KITA PERCAYA.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga mampu membuat kita memututuskan ”memotong tali pengait” saat tergantung terbalik ? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga kita menyerahkan semua yang ada pada diri kita kepada-NYA?

Teman, percayalah.. Akan ada petunjuk-petunjuk Allah dalam setiap lamgkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

(Irfan Toni Herlambang)
 

Followers

Blogger Tricks

free counters